Kementerian Pertanian (Kementan) resmi menetapkan batas minimal harga pembelian ayam hidup di tingkat peternak mulai 15 Juli 2026.

Kebijakan ini diambil setelah harga komoditas unggas sempat anjlok hingga Rp12.000 per kilogram.

>>> 5 Polisi Albany Dipecat karena Salahgunakan Sistem Pelat Nomor Flock

Padahal, akumulasi biaya produksi riil yang dikeluarkan peternak mencapai sekitar Rp20.000 per kilogram. Dengan harga jual yang jauh di bawah biaya, peternak mengalami kerugian besar.

Apresiasi dari DPR

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PAN, Herry Dermawan, mengapresiasi langkah Kementan. Ia menilai kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil positif karena harga ayam hidup berangsur membaik.

"Alhamdulillah, harga mulai membaik. Namun target kita bukan hanya Rp19.500 per kilogram.

Harapannya harga bisa lebih baik lagi sehingga peternak memperoleh keuntungan yang layak," ujar Herry dalam keterangan pers, Kamis (16/7/2026).

Herry menambahkan, DPR mengapresiasi perhatian Kementan terhadap sektor perunggasan.

>>> Pengemudi Lawan Arah yang Tewaskan Polisi Massachusetts Miliki Kadar Alkohol Dua Kali Lipat Batas Legal

Ia optimistis industri ayam nasional akan semakin tertata, mengingat nilai ekonominya mencapai sekitar Rp800 triliun per tahun dan melibatkan 12 juta tenaga kerja.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengatakan intervensi pasar mulai membuahkan respons positif. Kurva harga riil di kandang berangsur membaik.

"Harga di tingkat konsumen sebenarnya tidak turun sedalam harga yang diterima peternak. Karena itu kami melakukan pengawasan bersama Satgas Pangan dan aparat penegak hukum," tegas Sudaryono.

DPR mengingatkan pemerintah untuk terus memantau pergerakan harga agar peternak bisa meraup keuntungan yang sehat. Langkah penstabilan ini krusial untuk menjaga pasokan protein hewani masyarakat secara berkelanjutan.

>>> Dallas Woodhouse Mundur dari Kantor Auditor Negara Bagian North Carolina

Sebelumnya, Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) mengungkapkan gelombang panic selling melanda sentra produksi ayam hidup. Hal ini dipicu oleh tekanan likuiditas yang berat di tingkat peternak rakyat.