Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan mayoritas produksi gas dari Proyek LNG Abadi Blok Masela akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Proyek gas abadi ini akhirnya memasuki tahap baru melalui pelaksanaan proses peletakan batu pertama atau groundbreaking setelah tertunda selama 28 tahun.

>>> PPATK Siap Bantu Telusuri Aliran Dana Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

"Gasnya nanti, sesuai arahan Bapak Presiden, minimal 60 persen untuk memenuhi kebutuhan domestik dan maksimal 40 persen untuk ekspor," ujar Bahlil saat Groundbreaking Proyek LNG Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku pada Kamis (16/7).

Ia menjelaskan Blok Masela diproyeksikan menghasilkan sekitar 9,5 juta ton liquefied natural gas (LNG) per tahun serta 35 ribu barel kondensat per hari.

Produksi tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan lifting migas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Menurut Bahlil, pasokan gas untuk kebutuhan domestik akan dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk berbagai industri strategis yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Misalnya untuk mendukung pengembangan industri hilirisasi pupuk di kawasan Maluku.

"Sebagian kita akan memakai untuk hilirisasi PT Pupuk. Tadi ada Dirut PT Pupuk yang akan membangun industri hilirisasi di sini," kata Bahlil.

>>> Tiga Legenda Liga Inggris Kritik Pedas Taktik Thomas Tuchel

Selain itu, pemerintah juga akan mengalokasikan pasokan gas dari Blok Masela kepada PT PLN (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (PGN), serta sejumlah perusahaan swasta.

"Kemudian kita akan menyerahkan sebagian kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta yang sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah," jelasnya.