Status lajang kerap dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan. Banyak orang mengaku sering mendapat pertanyaan 'Kapan menikah?'

dari keluarga, teman, atau kenalan.

>>> Kemenhut Rekrut 23 Ribu Polisi Hutan dalam Tiga Tahun

Sebagian orang bahkan memakai cincin di jari manis agar tidak terus ditanya soal status hubungan. Padahal, tidak semua yang masih sendiri sedang mencari pasangan.

Sebuah penelitian oleh psikolog evolusi Menelaos Apostolou pada 2017 mengungkap bahwa keputusan tetap lajang dipengaruhi berbagai faktor.

Mulai dari kebebasan mengejar tujuan hidup hingga pengalaman pribadi dalam menjalin hubungan.

Kebebasan Jadi Alasan Utama

Salah satu alasan paling umum adalah keinginan memiliki kebebasan lebih besar.

Menurut Apostolou, orang lajang punya ruang lebih luas untuk mengejar pendidikan, karier, pengembangan diri, hobi, dan target finansial tanpa harus mempertimbangkan dinamika hubungan romantis.

Penelitian juga menemukan bahwa laki-laki lebih sering menempatkan kebebasan sebagai alasan utama dibanding perempuan.

Dalam perspektif evolusi, kondisi ini memberi kesempatan bagi laki-laki membangun karier dan status sosial sebelum menjalin hubungan serius.

Usia Pengaruhi Cara Pandang

Faktor usia juga berperan penting. Orang yang lebih muda cenderung memprioritaskan pendidikan atau karier sehingga hubungan asmara belum menjadi fokus utama.

Sementara individu yang lebih dewasa biasanya sudah memiliki pengalaman menjalin hubungan sehingga lebih paham apa yang mereka inginkan.

>>> AS Jual Senjata Rp44 T ke Saudi-Kuwait saat Perang Lawan Iran Memanas

Pengalaman itu membuat sebagian orang memutuskan bahwa hidup melajang lebih sesuai dengan kebutuhan dan nilai yang dianut.

Bertambahnya usia tidak selalu membuat seseorang ingin segera memiliki pasangan. Sebaliknya, pengalaman hidup bisa membuat seseorang semakin yakin dengan pilihannya untuk tetap sendiri.