Latar Belakang dan Dampak Kebijakan

Colby, yang menjabat sebagai penasihat utama Menteri Perang, dikonfirmasi Senat AS pada April 2025.

Ia dikenal sebagai arsitek intelektual utama di balik kerangka keamanan 'America First' pemerintahan saat ini.

Colby dikabarkan mengarahkan penyusunan Strategi Pertahanan Nasional 2026 yang menekankan perlindungan tanah air, Belahan Bumi Barat, dan penahanan China.

Strategi ini juga mendukung pengurangan penempatan militer AS di Eropa dan Timur Tengah.

>>> Microsoft Resmi Jual Surface Pro dan Surface Laptop Snapdragon X2 untuk Bisnis

Dalam 12 bulan terakhir, Colby terkait dengan kebijakan besar seperti penghentian sementara bantuan militer ke Ukraina, penarikan personel dari Rumania, dan evaluasi ulang pakta kapal selam nuklir AUKUS.

Menurut The Washington Post, Colby menjadi ujung tombak kelompok yang meyakini bahwa menghadapi Beijing harus menjadi prioritas utama.

Pandangan ini memicu perdebatan di kalangan elite Washington dan anggota parlemen.

Colby menegaskan bahwa inisiatif membangun blok keamanan alternatif didasarkan pada penilaian geopolitik yang keliru.

Ia menyebut middle powers tidak memiliki dasar koheren untuk bersatu.

Colby juga membantah bahwa mitra keamanan tradisional menjauh dari Washington. Ia mengklaim justru terjadi peningkatan keinginan untuk terlibat dengan AS.

Menurutnya, di bawah kepemimpinan Presiden Trump, negara-negara melihat nilai keterlibatan AS dan tidak bisa lagi menganggapnya remeh.

Namun, laporan media menunjukkan bahwa negara-negara Eropa mempercepat proyek regional untuk memperkuat kapasitas industri militer, jaringan energi, dan kemampuan teknologi independen.

Pekan ini, setelah KTT NATO di Ankara, para pemimpin Inggris, Jerman, Prancis, Ukraina, dan enam negara mitra bertemu di Paris untuk meluncurkan inisiatif rudal anti-balistik bersama untuk Eropa.