Oposisi Italia Desak Pemilu Setelah Kekalahan Pemerintah
Oposisi Italia semakin keras menuntut pemilu cepat setelah koalisi pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni mengalami kekalahan di parlemen.
Pada Selasa, sebuah amandemen penting untuk mereformasi sistem elektoral ditolak hanya dengan selisih satu suara di majelis rendah.
>>> Kenaikan Kepadatan Serikat Pekerja AS Tiga Kali Lipat Alihkan Rp19,2 Triliun ke Pekerja
Sekitar 20 hingga 25 anggota dari koalisi Meloni dilaporkan memecah suara dalam pemungutan suara rahasia tersebut.
Amandemen itu bertujuan memberi kewenangan kepada pemilih untuk memberi peringkat pada kandidat dalam daftar elektoral, sehingga meningkatkan partisipasi publik.
Pemerintah Meloni, yang memperkirakan pemilu umum tahun depan, berharap reformasi ini dapat memperkuat peluangnya untuk terpilih kembali.
Kekalahan ini terjadi setelah referendum gagal mengenai reformasi peradilan pada Maret lalu, semakin mempersulit agenda koalisi.
Saat oposisi merayakan hasil pemungutan suara dengan meneriakkan tuntutan pemilu dan pengunduran diri Meloni, Perdana Menteri mengungkapkan frustrasinya di media sosial.
>>> Kemenekraf Apresiasi Program Kreatif SMK Budi Luhur untuk Cetak SDM Industri Kreatif
"Rawa kembali menang," tulisnya, menyebut amandemen yang gagal sebagai "kesempatan yang hilang bagi rakyat Italia."
Meloni mengkritik oposisi yang mendorong pemungutan suara rahasia dan mengakui perlunya merenungkan suara yang hilang dari koalisinya.
Elly Schlein, pemimpin Partai Demokrat yang berhaluan kiri-tengah, mengatakan sudah waktunya Meloni mundur dan menyerukan pemerintahan yang mampu mengatasi tantangan Italia.
Mantan Perdana Menteri Giuseppe Conte juga mendesak Meloni untuk bertanggung jawab dan mengadakan pemilu awal.
Menanggapi hal itu, Senator Luca Ciriani dari partai Brothers of Italy milik Meloni membela stabilitas koalisi dan menegaskan mereka tidak akan mengakhiri masa pemerintahan.
>>> Game Buatan Indonesia Wajib Dibeli di Steam Summer Sale 2026
Ia menyebut anggota parlemen yang berbeda suara sebagai "penembak jitu" yang mengganggu persatuan.
Update Terbaru
Event Apex Legends x Cyberpunk Resmi Hadir dengan Peta Night City dan Kemampuan Baru
Rabu / 15-07-2026, 22:36 WIB
AnimeJapan 2027 Pindah ke Osaka untuk Pertama Kalinya, Pendaftaran Peserta Dibuka
Rabu / 15-07-2026, 22:36 WIB
Samsung Rilis Pembaruan Software untuk Galaxy Z Fold 6 dan Z Flip 6
Rabu / 15-07-2026, 22:36 WIB
Jari Manusia Bisa Rasakan Benda Tersembunyi Tanpa Menyentuh, Studi Ungkap
Rabu / 15-07-2026, 22:35 WIB
Purbaya Bantah Dana SAL Digunakan untuk Modal KDKMP, Sebut Hanya untuk Cash Management
Rabu / 15-07-2026, 22:35 WIB
Menkeu Purbaya Buka Suara soal Wacana Pajak JHT
Rabu / 15-07-2026, 22:35 WIB
Purbaya Pastikan Penanganan KCIC Tak Bergantung pada APBN
Rabu / 15-07-2026, 22:35 WIB
Purbaya: Rasio Utang RI Masih Aman, S&P Beri Rating BBB Outlook Stabil
Rabu / 15-07-2026, 22:35 WIB
Bintang Married to Medicine Tuduh Mantan Suami Suruh Tetangga Bunuh Dia
Rabu / 15-07-2026, 21:55 WIB
Veda Ega dan Mario Aji Tak Percaya Kutukan Marquez di Mandalika
Rabu / 15-07-2026, 21:55 WIB
Titiek Soeharto Pertanyakan Keabsahan Permenhut yang Diteken saat Menteri ke Luar Negeri
Rabu / 15-07-2026, 21:55 WIB
Statistik Ungkap Ketergantungan Inggris pada Kane-Bellingham, Jadi Masalah Lawan Argentina?
Rabu / 15-07-2026, 21:50 WIB
Song Min Ho Bantah Konspirasi dengan Supervisor dalam Sidang Absensi Tugas Militer
Rabu / 15-07-2026, 21:50 WIB
Jalan Musik di AS: Hadiah untuk Pengemudi yang Patuh Batas Kecepatan
Rabu / 15-07-2026, 21:49 WIB







