Donald Trump sendiri secara terbuka membela aksi intervensinya demi menyelamatkan penyerang andalan negaranya tersebut.

"Yang saya lakukan hanyalah meminta peninjauan ulang karena menurut saya itu bukan sebuah pelanggaran," ujar Trump, seperti dikutip dari Reuters.

>>> Fenomena Rashdul Kiblat 2026: Matahari Tepat di Atas Ka'bah Hari Ini, Simak Jadwal Lengkap dan Cara Akurat Cek Arah Kiblat

"Dan Anda tahu, saya sangat paham hal-hal seperti ini. Saya rasa itu bukan pelanggaran.

Itu hanya dua atlet hebat yang saling bertabrakan dan kaki mereka saling tersangkut. Saya pikir FIFA membuat keputusan yang sangat brilian.

Keputusan kartu merah dari wasit sangat mengerikan, tapi tidak ada yang membicarakan itu," beber Trump.

Meski akhirnya diperbolehkan tampil berkat 'pemutihan' sanksi tersebut, kehadiran Balogun gagal menyelamatkan Amerika Serikat yang akhirnya babak belur didepak Belgia dengan skor telak 4-1.

Dugaan Pelanggaran Lain

FairSquare menegaskan bahwa Infantino, yang juga menjabat sebagai anggota IOC sejak tahun 2020, terikat kuat oleh Piagam Olimpiade dan Kode Etik IOC yang menuntut netralitas politik secara mutlak.

"Ada bukti kuat bahwa Infantino telah melakukan lima pelanggaran jelas terhadap aturan netralitas politik IOC melalui pernyataan resmi atau ekspresi dukungan nyata kepada Presiden AS," tulis pernyataan resmi FairSquare.

Selain kasus Balogun, FairSquare membeberkan 4 dosa politik Infantino lainnya:

1. Secara terbuka mendukung Donald Trump untuk masuk nominasi Nobel Perdamaian.

2. Menghadiri serangkaian acara publik resmi yang berkaitan dengan pelantikan presiden Trump.

3. Menyerahkan penghargaan FIFA Peace Prize perdana kepada Donald Trump.

4. Mempromosikan platform penggemar Piala Dunia FIFA yang diduga dimanfaatkan untuk kampanye pengumpulan data pemilih bagi Trump.

Gelombang protes terhadap Infantino sebenarnya sudah mulai memuncak.

>>> Murka Deschamps Kritik Penunjukan Wasit Usai Prancis Tersingkir dari Piala Dunia 2026

FairSquare sebelumnya telah melaporkan kasus ini ke Komite Etik FIFA pada Desember lalu, yang kemudian mendapat dukungan resmi dari Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) serta 50 anggota Parlemen Eropa pada Juni kemarin.