Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima kunjungan Perdana Menteri Irak Ali Al Zaidi di Gedung Putih, Washington DC pada Selasa (14/7).

Dalam pertemuan tersebut, Trump menjanjikan sejumlah kesepakatan dan menyebut Al Zaidi sebagai "juara baru."

>>> Hakim Danish Tak Peduli Provokasi Fans Veda Ega di Moto3

"Irak memiliki potensi yang luar biasa karena minyaknya dan karena hal-hal lain, tetapi karena minyaknya, dan kita akan melakukan banyak kesepakatan," kata Trump, dikutip Al Jazeera.

"Kita akan menciptakan banyak lapangan kerja bagi kedua negara, dan kita akan mengekstraksi banyak minyak. Banyak minyak yang akan diekstraksi," imbuh dia.

Al Zaidi mengatakan kunjungan kali ini berbeda dan menjadi awal dari "kemitraan ekonomi." Ia menilai hubungan AS-Irak bergeser dari militeristik ke ekonomi.

Irak selama ini bergulat dengan pengaruh saingan antara Iran dan AS dalam politik domestik. Salah satu pemicu ketegangan adalah keberadaan pasukan AS.

Al Zaidi merupakan sosok yang didukung Trump untuk memimpin Irak. Trump sempat mengancam akan mencabut seluruh bantuan AS jika Al Zaidi tidak menjadi PM.

Penarikan Pasukan

Pada pertemuan itu, Al Zaidi dan Trump menyepakati bahwa pasukan AS yang tersisa di Irak, diperkirakan kurang dari 2.000 personel, akan ditarik penuh pada 30 September.

>>> Cara Cairkan Saldo Dana Rp50 Ribu Lewat Game Penghasil Uang 2026

Al Zaidi juga berjanji bahwa pada tanggal yang sama, faksi-faksi bersenjata yang aktif di seluruh Irak akan melucuti senjata.

Dalam pidato perdananya di parlemen sebagai PM, Al Zaidi berjanji melucuti senjata berbagai kelompok paramiliter yang berkuasa sejak perang pimpinan AS di Irak pada 2003.

Ia belum menjelaskan bagaimana mewujudkan tujuan ambisius itu.

Namun, sebelum keberangkatannya, kelompok Perlawanan Islam di Irak yang didukung Iran menyatakan akan menolak hasil kunjungan Al Zaidi.

Irak menjadi salah satu front dalam perang AS-Israel dengan Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu.

>>> 7 Game Terpercaya untuk Hasilkan Saldo DANA Cepat di 2026

Ekonomi Irak juga terpukul akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran, karena 90 persen dari 3,4 juta barel ekspor bahan bakar fosilnya melewati perairan itu.