Teori konspirasi melonjak di media sosial setelah kematian mendadak Senator AS Lindsey Graham dan ketidakhadiran publik yang berkepanjangan dari Senator Mitch McConnell.

Rumor ini menargetkan dua tokoh Republik paling terkemuka di Senat, dipicu oleh menurunnya kepercayaan pada institusi publik dan transparansi pemerintah.

>>> Komisioner AFP Perintahkan Pemusnahan Pistol Imitasi Hadiah dari FBI

Presiden Donald Trump menanggapi spekulasi tersebut pada Selasa, menyatakan keraguan atas adanya tindak kriminal dan mempertanyakan perlunya keterlibatan federal di kediaman mendiang senator.

"Saya tahu ada banyak teori konspirasi," kata Trump. Ia menyoroti riwayat masalah kardiovaskular Graham dan mencatat bahwa diseksi aorta sulit diprediksi.

"Saya pikir FBI membuang-buang waktu mereka," ujar Trump.

Peran Media Sosial dan Influencer

Komentator media sosial dan influencer sayap kanan mendorong banyak perbincangan daring, mempertanyakan temuan medis resmi dan pembaruan bukti hidup dari kantor kongres.

Para ahli ilmu politik mencatat bahwa meskipun rumor digital ini mendapatkan visibilitas besar, hal itu tidak serta merta berarti kepercayaan publik yang luas.

"Jika kita melakukan percakapan ini di pendingin air, kata-kata kita akan hilang dan tidak ada yang melihatnya," kata Joseph Uscinski, Profesor Ilmu Politik di Universitas Miami.

Uscinski, yang telah melacak tren konspirasi sejak 2022, menjelaskan bahwa sifat permanen media sosial membuat narasi alternatif sangat mudah diakses selama perkembangan politik besar.

"Tetapi karena media sosial ada di sana selamanya, orang yang ingin tahu apa yang dibicarakan orang lain dapat dengan mudah melihat dan mengaksesnya.

Namun itu tidak berarti meyakinkan siapa pun," katanya.

Ia menekankan bahwa fokus publik yang meningkat pada peristiwa signifikan secara alami meningkatkan perhatian pada rumor yang menyertainya, meskipun penganut sebenarnya tetap minoritas.