Sebagai balasan, militer Iran mengklaim telah meluncurkan serangan pesawat nirawak ke pangkalan militer AS di Azraq, Yordania.

Sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang fasilitas penyimpanan senjata di Bahrain dan Kuwait, meski laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan eskalasi konflik meningkatkan peluang harga minyak kembali mendekati US$100 per barel apabila infrastruktur energi di kawasan Teluk mengalami kerusakan.

"Jika eskalasi terus berlanjut hingga merusak infrastruktur energi di kawasan Teluk, peluang harga minyak kembali menuju US$100 per barel dalam waktu dekat masih cukup besar," jelasnya.

>>> Polymarket Perbarui Insentif Platform Prediksi Jelang Acara Besar

Meski demikian, Waterer menilai harga Brent masih berpotensi bertahan di kisaran US$75 hingga US$80 per barel apabila jalur diplomasi berhasil membuka kembali Selat Hormuz.