Dunia perwasipan Belanda tengah diselimuti duka yang amat mendalam. Bas Nijhuis, sosok wasit senior yang kerap dikenal dengan ketegasannya di atas lapangan, tak kuasa menahan air mata saat mengenang rekannya, Rob Dieperink. Wasit berusia 38 tahun asal Borculo tersebut dikabarkan meninggal dunia pada Senin (13/7/2026), meninggalkan kejutan dan kesedihan yang tak terhingga bagi para kolega dan pecinta sepak bola.
 
Pengakuan emosional ini mencuat ke permukaan dalam tayangan program Vandaag Inside pada Selasa (14/7/2026). Dengan suara yang bergetar, Nijhuis menggambarkan Dieperink bukan sekadar rekan kerja, melainkan seorang "pria hebat" (superkerel) yang kehadirannya selalu membawa energi positif.
 

Momen Mencekam di Ruang Ganti FC Twente

Kisah duka ini bermula dari momen yang sepenuhnya tak terduga. Saat itu, Nijhuis tengah menjalankan tugasnya di markas FC Twente, Enschede, untuk memberikan sosialisasi mengenai peraturan dan pedoman baru kepada para pemain dan staf kepelatihan. Kewajiban ini merupakan rutinitas yang harus dilakukan di seluruh klub menjelang musim baru.
 
Namun, suasana profesional tersebut mendadak berubah menjadi hening dan mencekam. Setelah sesi penjelasan selesai, Daan Rots, pemain FC Twente, menghampiri Nijhuis dengan wajah serius. "Saya baru saja mendapat kabar sebelum kamu mulai. Rob Dieperink telah meninggal," ucap Rots.
 
Bagi Nijhuis, kabar itu bagaikan petir di siang bolong. "Lalu kamu benar-benar merasakan perasaan seperti: apa yang sedang terjadi di sini? Itu tidak mungkin benar, kan? Seorang pria berusia 38 tahun. Itu cukup sulit bagi saya. Benar-benar seorang superkerel. Benar-benar pria yang luar biasa," ujar Nijhuis dengan mata yang berkaca-kaca, menggambarkan betapa sulitnya menerima kenyataan pahit tersebut.