Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran: Pembangkit Listrik dan Jembatan Jadi Target
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan ancaman terhadap Iran. Ia menyatakan militer AS akan memperluas serangan ke infrastruktur vital negara tersebut.
Trump mengisyaratkan bahwa pembangkit listrik dan jembatan di Iran akan menjadi sasaran berikutnya. Ancaman ini disampaikan jika Teheran tidak kunjung mau berunding.
>>> Desakan Ambil Alih Kasus Eks Jampidsus Menguat, KPK: Masih Dini
"Malam ini kami akan menghantam mereka dengan sangat keras. Besok malam kami akan menghantam mereka dengan sangat keras.
Malam berikutnya kami juga akan menghantam mereka dengan sangat keras," kata Trump, Rabu (15/7).
Ia kemudian merinci target serangan yang akan menyasar infrastruktur strategis Iran. "Dan minggu depan keadaan akan menjadi sangat buruk bagi mereka.
Minggu depan giliran pembangkit listrik. Minggu depan giliran jembatan-jembatan," ujarnya.
Trump menegaskan bahwa AS akan melumpuhkan semua pembangkit listrik dan menghancurkan jembatan Iran kecuali mereka bersedia bernegosiasi.
>>> David Beckham Bela Ekspresi Datar Victoria Saat Inggris Cetak Gol
Pernyataan ini menjadi ancaman paling terbuka dari presiden AS terhadap fasilitas sipil Iran.
Menurut Trump, Iran kini tidak memiliki banyak pilihan selain menerima kesepakatan dengan AS. Ia menuding Teheran berulang kali melanggar hasil perundingan yang pernah dicapai.
"Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi setiap kali kesepakatan dibuat, mereka selalu melanggarnya," kata Trump. Ia juga memperingatkan pemerintah Iran agar segera mengambil keputusan untuk berdamai.
"Lebih baik kalian membuat kesepakatan. Kalau tidak, tidak akan ada siapa pun yang tersisa," tegasnya.
Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya serangan militer AS terhadap sejumlah target di Iran.
>>> Ramalan Zodiak 15 Juli: Capricorn Jaga Kepercayaan, Pisces Manfaatkan Peluang
Jika direalisasikan, pembangkit listrik dan jaringan jembatan berpotensi menjadi sasaran utama, yang akan memperbesar eskalasi konflik dan mempersulit penyelesaian diplomatik.
Update Terbaru
Otoritas Jepang Buru Beruang Hitam yang Bobol 14 Rumah
Rabu / 15-07-2026, 12:10 WIB
Prabowo Bahas Ketahanan Ekonomi dan Percepatan GovTech Bersama DEN
Rabu / 15-07-2026, 12:10 WIB
ULN Indonesia Naik Tipis Jadi US$444,4 Miliar pada Mei 2026, BI: Struktur Utang Tetap Sehat
Rabu / 15-07-2026, 12:09 WIB
Google Beri Kesempatan Kedua untuk Beli Pixel Care+ bagi Pemilik Pixel 9 dan 10
Rabu / 15-07-2026, 12:07 WIB
Orang Tua Remaja Kulit Hitam Tewas di Mississippi Minta Investigasi Lebih Lanjut
Rabu / 15-07-2026, 12:06 WIB
LAPD Hentikan Kontrak Flock Safety karena Masalah Privasi Data
Rabu / 15-07-2026, 12:06 WIB
CNN Heroes Awards Rilis Syarat Kelayakan dan Aturan Nominasi
Rabu / 15-07-2026, 11:28 WIB
Iran Klaim Gempur Pangkalan Jet F-18 AS di Yordania dan Armada Ke-5 di Bahrain
Rabu / 15-07-2026, 11:28 WIB
Harga Minyak Melonjak ke US$86 Usai Trump Targetkan Fasilitas Energi Iran
Rabu / 15-07-2026, 11:28 WIB
Sidang Banding Nadiem Makarim Digelar 5 Agustus
Rabu / 15-07-2026, 11:28 WIB
Harry Kane Bantah Isu Keretakan Timnas Inggris: Ada yang Ingin Pecah Belah
Rabu / 15-07-2026, 11:28 WIB
Polymarket Perbarui Insentif Platform Prediksi Jelang Acara Besar
Rabu / 15-07-2026, 11:25 WIB
Motor ASN Diderek karena Langgar Aturan Rabu Wajib Transportasi Umum
Rabu / 15-07-2026, 11:25 WIB
Harga Emas Antam Naik Rp20 Ribu Jadi Rp2,635 Juta per Gram
Rabu / 15-07-2026, 11:24 WIB







