PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menargetkan kapasitas pembangkit panas bumi yang dikelola secara mandiri mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.

Target tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat peran energi panas bumi dalam mendukung ketahanan energi nasional.

>>> Biaya Kuliah Terus Naik, IFG Life Soroti Pentingnya Ketahanan Finansial

Komitmen tersebut disampaikan PGE dalam The 5th ITB International Geothermal Workshop (IIGW) 2026 di Bandung, yang mengangkat tema New Horizons in Geothermal: Beyond Conventional Boundaries.

Forum tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri, investor, dan pemangku kepentingan guna membahas arah pengembangan panas bumi di Indonesia.

Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan momentum 100 tahun pengembangan panas bumi di Indonesia menjadi awal babak baru untuk memperluas pemanfaatan energi panas bumi.

Menurutnya, perusahaan akan berfokus pada tiga strategi utama, yakni mempercepat inovasi teknologi, memperluas pemanfaatan panas bumi di luar sektor kelistrikan, serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Ke depan, fokus PGE adalah mempercepat inovasi teknologi, memperluas pemanfaatan panas bumi di luar sektor kelistrikan, serta memperkuat kolaborasi agar potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat memberikan manfaat yang semakin luas,” ujar Andi.

Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 GW, terbesar kedua di dunia.

Pengembangan energi tersebut bermula dari survei manifestasi panas bumi di Kamojang yang dilanjutkan dengan pengeboran eksplorasi pertama pada 1926.

>>> Dokter Indonesia Ciptakan AI untuk Deteksi Dini Risiko Gagal Jantung

Kini, Indonesia menjadi salah satu produsen listrik panas bumi terbesar di dunia.

PGE menilai panas bumi memiliki peran strategis karena mampu menghasilkan listrik rendah emisi secara berkelanjutan selama 24 jam.