Limbah hasil penyulingan jahe selama ini kerap terbuang sia-sia. Namun, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melihat potensi besar di balik residu tersebut.

Mereka mengembangkan teknologi untuk mengubah limbah rimpang jahe menjadi biobriket, bahan bakar padat berbasis biomassa. Inovasi ini diharapkan menjadi alternatif pengganti bahan bakar fosil sekaligus mendukung ekonomi sirkular.

>>> Belum Punya Riwayat Kredit? Data Digital Bisa Buka Akses Pembiayaan

Limbah Jahe Kaya Lignin, Cocok untuk Biobriket

Peneliti BRIN, Prof. Anny Sulaswatty, menjelaskan bahwa peningkatan produksi minyak atsiri jahe menghasilkan limbah padat dalam jumlah besar.

Limbah tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai sisa produksi, melainkan sebagai sumber bahan baku energi.

"Peningkatan produksi minyak menghasilkan limbah padat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket untuk mendukung energi alternatif berbasis biomassa," ujar Anny.

Tidak semua limbah biomassa bisa langsung diolah. Bahan baku harus memiliki kandungan karbon minimal 40 persen agar menghasilkan bahan bakar berkualitas.

Limbah jahe memenuhi syarat tersebut, dengan kandungan lignin mencapai hampir 46 persen.

Selain jahe, residu penyulingan akar wangi, serai wangi, kulit kayu manis, dan cengkeh juga berpotensi serupa.

Proses Karbonisasi Tingkatkan Kualitas

Penelitian BRIN berfokus pada pengembangan biochar dari limbah penyulingan jahe. Limbah dikeringkan, dikarbonisasi, lalu dicampur dengan perekat sebelum dicetak menjadi biobriket.

>>> 5 Cara Sederhana Redakan Stres Kerja agar Tidak Burnout, Mudah Dilakukan!

Tim peneliti menguji kadar air, kadar abu, karbon tetap, densitas, kekuatan mekanik, dan nilai kalor untuk menentukan kualitas produk.

Hasilnya, proses karbonisasi meningkatkan kandungan karbon dan menghasilkan struktur biochar yang lebih berpori, sehingga meningkatkan kualitas biobriket.