Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, mengungkapkan penyebab kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin sulit dipadamkan.

Menurutnya, api yang berada di bawah permukaan timbunan sampah menjadi kendala utama.

>>> Remaja di Sampang Diduga Diperkosa 27 Orang: 12 Ditangkap, 15 Buron

Oksigen masih bisa masuk hingga kedalaman dua meter, membuat bara api bertahan lama dan air sulit mencapai titik panas.

"Yang sulit adalah yang di bawah permukaan, karena oksigennya masih sampai 2 meter itu, nah ini tersembunyi hotspotnya lalu baranya bertahan lama dan air sulit mencapai titik panas, persoalannya di situ," ujar Wahyu dalam acara MELODI BRIN yang disiarkan daring, Kamis (10/7).

Ia menambahkan, pemadaman api di bawah permukaan tidak cukup hanya dengan bom air dari atas. "Dia (titik api di bawah permukaan) harus dibantu alat berat," katanya.

Kondisi ini serupa dengan kebakaran lahan gambut, di mana api tidak terlihat di permukaan tetapi asap terus mengepul dari area yang terbakar.

Risiko Kebakaran TPA dan Pencegahannya

Wahyu menilai setiap TPA memiliki risiko kebakaran, terutama saat musim kemarau.

Risiko ini perlu dikenali sejak awal melalui perbaikan operasi, pemantauan timbunan, pengelolaan gas, deteksi hotspot, pengawasan sumber api, serta peningkatan kesiapsiagaan.

Pemerintah daerah juga perlu memiliki rencana jelas untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA.

Secara ilmiah, kebakaran terjadi ketika tiga unsur bertemu: bahan bakar, oksigen, dan sumber panas.

Di area TPA, bahan bakar melimpah berupa sampah mudah terbakar seperti plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, dan material organik kering.

>>> Jangan Pernah Taruh Koper di Atas Tempat Tidur, Ini Alasannya