Selain pembangkit listrik, perusahaan juga mengembangkan pemanfaatan langsung (direct use) untuk sektor pertanian dan industri, serta mengembangkan teknologi green hydrogen sebagai bagian dari ekosistem energi rendah karbon.

Dalam aspek operasional, PGE mempercepat transformasi digital melalui pengembangan teknologi pengujian sumur panas bumi dan digitalisasi proses operasi untuk meningkatkan efisiensi, akurasi data, serta mempercepat pengambilan keputusan dalam pengembangan lapangan panas bumi.

Pada ajang IIGW 2026, PGE juga menerima Ganesha Geothermal Award for Outstanding Funding dan Ganesha Geothermal Award for Long-Term Commitment sebagai apresiasi atas kontribusinya dalam mendukung riset, pendidikan, inovasi, dan pengembangan industri panas bumi di Indonesia.

Di sisi keberlanjutan, PGE mencatatkan skor ESG Risk Rating sebesar 7,1 berdasarkan penilaian Sustainalytics.

Perusahaan juga menyatakan telah membantu menghindari emisi sekitar 4,29 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) dibandingkan pembangkit berbasis energi fosil, dengan intensitas emisi sebesar 0,041 ton CO₂e per MWh.

>>> Timothée Chalamet Gagal Menahan Antusiasme Bertemu Cheerleader Dallas Cowboys

PGE meyakini penguatan inovasi, kolaborasi lintas sektor, serta diversifikasi pemanfaatan panas bumi akan menjadi fondasi untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan sekaligus mendukung target ketahanan dan swasembada energi nasional.