Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap penyebab harga beras masih tinggi di sejumlah daerah.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan harga beras di pasar mengikuti harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani.

>>> Mantan Bintang 'RHONY' Ogah Berhubungan dengan Pemeran Reboot

Saat ini rerata harga GKP mencapai Rp7.000 per kilogram.

"Kalau GKP-nya tinggi, di atas Rp7.000, tentu harga beras tidak mungkin di eceran sesuai harga eceran tertinggi yang menggunakan asumsi GKP Rp6.500," ujar Ketut di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (14/7).

Meski demikian, Ketut menegaskan harga GKP yang tinggi menguntungkan petani. "Petani kita lagi bahagia.

Kalau kita ingin menjadi negara produsen, ingin swasembada, ini sisi positif karena harganya nyaman bagi petani untuk berproduksi," terangnya.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), rerata nasional harga beras mencapai Rp15.499 per kilogram.

>>> Eksekutif Wanita JPMorgan Chase Ajukan Gugatan Balik dalam Kasus Pelecehan Seksual

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut harga beras stabil tetapi pada level yang tinggi.

Untuk merespons harga mahal, Bapanas akan menggelontorkan bantuan pangan tahap dua berupa beras kepada 33,24 juta penerima pada Agustus 2026.

Ketut menyebut pihaknya masih menunggu persetujuan anggaran dari Kementerian Keuangan.

Bantuan pangan tahap satu telah tersalur 99,7 persen. Sisanya 0,3 persen belum tersalur terutama di Papua, beberapa wilayah Sumatra, dan Sulawesi.

BPS mencatat harga beras masih bertahan di level tinggi pada pekan kedua Juli 2026. Sebanyak 128 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga beras, dan 29 provinsi juga mencatat kenaikan.

>>> Perahu Wisata Tenggelam di Dekat Alcatraz, Satu Tewas Satu Hilang

Harga beras stabil di Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Papua Selatan, dan Papua Pegunungan. Sementara itu, Jawa Timur, Sumatra Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat mulai mengalami penurunan.