Pemerintah Iran melontarkan kritik tajam terhadap rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menerapkan biaya upeti di Selat Hormuz.

Washington berencana mengenakan tarif sebesar 20 persen kepada kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis di Timur Tengah tersebut.

>>> Redmi Note 17 Pro Resmi di China: Baterai 9.000 mAh dan Ketahanan Kelas Flagship

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai tarif yang ditetapkan terlalu tinggi dan tidak masuk akal.

"Dua puluh persen itu berlebihan. Kami akan adil," kata Araghchi, dikutip Selasa (15/7).

Iran sebelumnya telah mengusulkan mekanisme pemberian kompensasi bagi pihak yang menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.

Menurut Araghchi, siapa pun yang menjamin keamanan kapal-kapal dagang memang pantas memperoleh kompensasi.

"Siapa pun yang menyediakan jalur pelayaran yang aman dan menjamin kapal-kapal komersial melintas Selat Hormuz harus diberi kompensasi atas jasanya," ujarnya.

>>> Stan Wawrinka Hadapi Jaime Faria di ATP Swiss Open Gstaad

Sebelumnya, Trump mengumumkan bahwa AS akan mengambil alih pengamanan Selat Hormuz dan meminta negara-negara pengguna jalur itu membayar biaya perlindungan.

Trump menegaskan pihaknya telah mengorbankan personel dan sumber daya untuk menjaga keamanan kawasan tersebut sehingga layak memperoleh penggantian biaya.

"Kita akan menjaganya. Kita akan dibayar untuk menjaganya—sejumlah besar uang.

Kita ingin mendapatkan penggantian biaya karena telah menempatkan orang-orang kita dalam bahaya," ujar Trump.

Selain mengenakan tarif, Trump juga mengaktifkan kembali blokade terhadap kapal-kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan milik Iran.

>>> Sandisk Umumkan Laporan Keuangan Kuartal Keempat di Tengah Lonjakan Saham

Iran tetap menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz berada di bawah kendalinya dan menilai kebijakan tarif versinya akan lebih adil dibandingkan rencana Amerika Serikat.