Freeport memiliki fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) yang memurnikan lumpur anoda menjadi logam bernilai tinggi.

Perusahaan memproyeksikan produksi emas 50 ton per tahun dan perak 200 ton per tahun, serta Platinum Group Metals (PGM) seperti platina (30 kg), paladium (375 kg), selenium (285 ton), bismut (220 ton), dan timbal (2.200 ton).

Amman memproyeksikan produksi emas 18 ton per tahun dan perak 55 ton per tahun. Dari sisi volume, Freeport unggul karena basis tambang dan kapasitas pengolahan yang lebih besar.

Asam Sulfat: Produk Samping Bernilai

Kedua perusahaan menghasilkan asam sulfat sebagai produk samping.

Freeport memproyeksikan produksi sekitar 1,5 juta ton per tahun dari smelter Gresik, yang rencananya dijual di dalam negeri.

Sementara Amman memproyeksikan sekitar 830.000 ton per tahun dari smelter Batu Hijau.

Jika ukurannya kapasitas dan volume produksi, Freeport masih menjadi pemain terbesar. Namun, kehadiran Amman memperkuat kapasitas nasional dalam mengolah mineral tembaga.

>>> Gelar Miss Supranational Thailand 2026 Dicopot, Batal Ikut Final

Persaingan ini bukan hanya soal siapa menghasilkan lebih banyak, tetapi bagaimana keduanya memperkuat posisi Indonesia di rantai industri mineral global.