Mantan kepala PlayStation Store angkat bicara mengenai tuduhan monopoli dan manipulasi harga di toko digital Sony.

Gordon Thornton menegaskan bahwa harga eceran game sebenarnya ditentukan oleh penerbit, bukan oleh Sony.

>>> Kolam Refleksi Lincoln Memorial Dikuras Lagi untuk Perbaikan

Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran gamer setelah Sony mengumumkan akan menghentikan produksi cakram fisik untuk game PlayStation baru mulai 2028.

Selama ini, game fisik dikenal lebih murah berkat diskon ritel dan pasar barang bekas.

Thornton menghabiskan 18 tahun di Sony Interactive Entertainment hingga 2022, dengan jabatan terakhir sebagai senior vice president dan kepala global PlayStation Store.

Ia mengklaim bahwa model bisnis PlayStation adalah jual-beli di mana penerbit bertindak sebagai pemasok.

"Mengenai tuduhan monopoli dan manipulasi harga, PlayStation beroperasi dengan model jual-beli di mana penerbit bertindak sebagai pemasok," ujar Thornton kepada Insider Gaming.

>>> Dua Investor Institusi Kurangi Kepemilikan Saham Bank of America

"Karena harga eceran yang direkomendasikan ditetapkan langsung oleh penerbit, Sony tidak mengontrol struktur harga ini."

Pernyataan ini tampak bertentangan dengan argumen Sony dalam gugatan class action tahun 2021. Saat itu, penggugat Agustín Caccuri menuduh Sony memaksa penerbit menyerahkan kendali penuh atas harga eceran.

Dalam mosi untuk menolak gugatan pada awal 2022, Sony mengakui bahwa mereka yang menetapkan harga akhir.

Sony menyebut hal itu sebagai cara kerja model grosir: pengecer menetapkan harga jual ke konsumen setelah menyepakati harga grosir dengan penerbit.

Gugatan tersebut akhirnya mencapai penyelesaian awal pada April lalu.

>>> Hasil Powerball 13 Juli 2026: Jackpot Rp 7,7 Triliun

Jika disetujui final pada sidang 15 Oktober, anggota kelas yang memenuhi syarat bisa menerima total USD 7,85 juta.