Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengecam pernyataan Presiden AS Donald Trump yang ingin memungut biaya 20 persen dari setiap kapal tanker yang mendapat perlindungan militer AS di Selat Hormuz.

Lula menyebut kebijakan itu sebagai bentuk pembajakan. Ia menilai tindakan tersebut tidak pantas dilakukan oleh negara sebesar Amerika Serikat yang selama ini memerangi pembajakan.

>>> Cek Bansos KTP 2026 Lewat HP, Cukup Masukkan NIK untuk Melihat Status Penerima

"Ini dulunya dianggap sebagai pembajakan.

Sebuah negara besar seperti Amerika Serikat, yang saya yakini telah lama memerangi pembajakan, tidak dapat dimungkiri sekarang menjadi pembajak," ujar Lula dikutip dari TBS News.

Sebelumnya, Trump melalui unggahan di Truth Social pada Senin (13/7) menyatakan bahwa AS akan menjadi 'Penjaga Selat Hormuz' dan mematok biaya tol 20 persen untuk setiap kargo yang dikirim melalui selat tersebut.

Trump beralasan biaya itu diperlukan untuk menutup pengeluaran keamanan di kawasan yang rawan konflik.

>>> Conde Nast Traveler Gandeng H&M Luncurkan Koleksi Pakaian Musim Panas

Menurut Strait Times, jika diterapkan, biaya yang harus dibayar setiap kapal tanker bisa mencapai US$30 juta atau sekitar Rp542 miliar.

Angka itu berdasarkan harga minyak saat ini sekitar US$80 per barel, dengan kapal tanker super mampu menampung hingga 2 juta barel.

Sebagai perbandingan, Iran hanya mengenakan biaya hingga US$2 juta per pelayaran di selat yang sama.

Lula juga menyoroti dampak konflik di Timur Tengah terhadap Brasil.

>>> Cara Hasilkan Saldo Dana Gratis Lewat Game Tap Warna yang Terbukti Cair 2026

Ia mengatakan perang telah mendorong kenaikan harga bahan pangan pokok seperti kacang-kacangan, beras, tomat, dan bawang, serta bahan bakar.