Ketegangan antara Polandia dan Ukraina kembali memanas setelah Kyiv mengambil langkah kontroversial terkait sejarah Perang Dunia II.

Keputusan untuk menghormati para pejuang yang terkait dengan Tentara Pemberontak Ukraina (UPA) telah membangkitkan kembali perselisihan lama mengenai peristiwa pembantaian sekitar 100.000 warga Polandia di Volhynia pada tahun 1943.

>>> Kemarahan Publik Venezuela Meledak Akibat Respons Gempa yang Dianggap Gagal

Isu ini menjadi titik kritis dalam hubungan bilateral kedua negara.

Solidaritas yang Mulai Memudar

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Polandia menjadi salah satu pendukung utama Ukraina, termasuk menerima jutaan pengungsi.

Namun, solidaritas itu mulai berkurang seiring pemerintah nasionalis Polandia kembali menekankan keluhan sejarah terhadap Ukraina.

Polandia bahkan mengancam akan memblokir aksesi Ukraina ke Uni Eropa jika masalah ini tidak diselesaikan.

>>> Sakha Coffee: Mengangkat Kopi Lokal Lewat Gerakan #BeliLokal

Keputusan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menamai unit militer dengan nama pahlawan UPA, meskipun ada protes dari Polandia, semakin memperburuk ketegangan.

Bagi Ukraina, UPA dihormati karena perlawanannya terhadap kekuasaan Soviet. Namun, Polandia mengingat peran UPA dalam pembantaian warga Polandia dan Yahudi selama perang.

Peristiwa tersebut sering kali dianggap remeh atau dikontekstualisasikan sebagai bagian dari kekacauan era itu oleh pihak Ukraina.

>>> Menuju OECD, Menperin Benahi Tata Kelola Bahan Kimia di Tengah Lonjakan Ekspor

Ketegangan ini mengancam hubungan bilateral dan prospek integrasi Ukraina ke Uni Eropa.