Ukraina kembali menyerang armada besar kapal-kapal Rusia yang melintas di Laut Azov menggunakan drone pada akhir pekan lalu.

Serangan besar-besaran yang menargetkan 90 kapal termasuk tanker Rusia memaksa Moskow menutup jalur perdagangan penting di Laut Azov.

>>> IHSG Menguat 1,92 Persen ke 6.037 pada Awal Pekan

Kepala divisi drone Ukraina, Robert Brovdi, mengatakan pada Minggu bahwa unitnya telah menyerang 10 kapal tanker dan empat feri semalam, serta sebuah kilang minyak besar di kota Syzran.

Ia menambahkan bahwa telah terjadi beberapa serangan terhadap gardu listrik di Krimea yang diduduki Rusia.

"Penghinaan teknologi terhadap kekaisaran [Rusia] terus berlanjut. Kekaisaran itu akan runtuh karena Krimea," tulis Brovdi di media sosial, dikutip dari The Guardian.

Brovdi mengatakan armada bayangan Moskow yang mengangkut produk minyak yang dikenai sanksi ke seluruh dunia, "menyusut secara nyata" dan tidak dapat lagi menggunakan Selat Kerch, jalur penghubung Laut Azov dengan Laut Hitam.

Laut Azov adalah jalur vital yang menghubungkan Rusia dengan Eropa Timur. Laut ini sangat penting secara ekonomi dan militer bagi Moskow.

>>> Danantara Garap 26 Proyek Hilirisasi Rp225 T, Serap 37 Ribu Buruh

Rusia menangguhkan pengiriman melalui kanal Don-Azov pada Jumat, menurut laporan Reuters. Kanal tersebut terhubung dengan jaringan sungai Rusia dan Laut Kaspia.

Mantan Menteri Pertahanan Ukraina, Andriy Zagorodnyuk, mengatakan Kremlin telah kehilangan kendali atas koridor maritim yang "kritis".

Ia menilai blokade tersebut memengaruhi kapal militer dan pengiriman yang mengangkut biji-bijian yang dicuri dari Ukraina selatan yang diduduki dan dipindahkan melalui pelabuhan Berdyansk dan Mariupol.

"Laut Kaspia tidak memiliki hubungan apa pun dengan samudra dunia. Laut itu telah berubah menjadi danau.

>>> Harrison Ford Jaga Kekuatan Inti dengan Latihan Fungsional dan Diet

Semua produknya, pertanian, pupuk, apa pun, melewati kanal dan sungai ini," kata Zagorodnyuk.