Anak yang lebih sering menghabiskan waktu di depan layar gawai dan jarang bermain di luar ruangan berisiko mengalami miopia atau mata minus lebih cepat, bahkan sebelum genap berusia 8 tahun.

Dokter spesialis mata mengingatkan perubahan gaya hidup anak saat ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus miopia.

>>> Kalah Mengenaskan, McGregor Masih Ngebet Bertarung Lagi

Aktivitas belajar yang padat, penggunaan gawai dalam waktu lama, hingga minimnya paparan sinar matahari membuat risiko gangguan penglihatan semakin besar.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, Julie Dewi Barliana mengatakan paparan sinar matahari dan aktivitas di luar ruangan memiliki peran penting dalam mencegah perkembangan mata minus pada anak.

Sebaliknya, anak yang lebih banyak melakukan aktivitas jarak dekat, seperti bermain gawai, membaca, atau belajar dalam waktu lama tanpa diimbangi aktivitas di luar ruangan, memiliki risiko lebih tinggi mengalami miopia.

"Jika kita menemukan seorang anak di bawah usia 8 tahun dengan hiperopia yang sudah hampir hilang, kemudian berasal dari etnis Asia, memiliki riwayat keluarga dengan miopia, serta faktor lingkungan seperti keterbatasan aktivitas di luar rumah, kurang paparan matahari, dan aktivitas jarak dekat yang intensif, maka anak tersebut sudah masuk kelompok berisiko mengalami premiopia," ujar Julie dalam keterangannya saat hadir di acara Scientific and Clinical Forum 2026 yang diselenggarakan EssilorLuxottica di Jakarta.

Pre-miopia merupakan kondisi ketika mata anak belum mengalami miopia, tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada perkembangan mata minus.

Menurut Julie, fase ini menjadi waktu paling ideal untuk melakukan intervensi agar miopia tidak berkembang semakin berat.

Secara normal, anak usia 6-7 tahun masih memiliki cadangan rabun dekat atau hiperopia sekitar +1 hingga +1,5 dioptri.