Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari lima orang di dunia akan mengidap kanker.

Penyakit ini diproyeksikan akan menyentuh kehidupan sebanyak 92% orang, baik melalui diagnosis diri sendiri maupun diagnosis anggota keluarga dekat.

>>> Dari Ritual Juju hingga Air Mata, Kisah Fans di Piala Dunia 2026

Ketua tim pengendalian kanker WHO, Dr. Andre Ilbawi, mengungkapkan bahwa selama ini kisah tentang kanker selalu berkaitan dengan kemajuan ilmiah dan harapan baru.

Namun, menurutnya, itu bukanlah keseluruhan cerita.

Laporan status global WHO tentang kanker tahun ini menemukan ketimpangan yang persisten dan semakin melebar dalam akses terhadap pencegahan, diagnosis, pengobatan, serta perawatan.

Diperkirakan ada 20,6 juta kasus baru dan 10 juta kematian akibat kanker setiap tahunnya.

Angka-angka tersebut diproyeksikan akan melonjak hingga hampir 35 juta kasus pada tahun 2050.

Di negara-negara kaya, 85% pasien kanker payudara atau kanker anak bertahan hidup setidaknya lima tahun, sementara di negara miskin angka itu kurang dari 30%.

Kesenjangan Akses dan Biaya

Laporan tersebut menemukan bahwa di negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah, hanya 9% hingga 54% obat kanker prioritas utama yang tersedia.

Sebaliknya, di negara berpenghasilan tinggi, ketersediaannya mencapai 68% hingga 94%.

>>> Cek Feng Shui Kamar Tidur Anda, Bisa Jadi Penyebab Rezeki Seret dan Lelah Terus-menerus

Bahkan, di 23 negara sama sekali tidak ada fasilitas radiasi.

Tingkat diagnosis di Afrika sub-Sahara lebih rendah, namun angka kematian akibat kanker di sana sangat tinggi secara tidak proporsional.

Dua pertiga negara tidak memasukkan kanker ke dalam paket jaminan kesehatan. Biaya yang tinggi membuat hingga 90% pasien di beberapa wilayah terpaksa menghentikan pengobatan.