Chatbot AI yang dirancang untuk membantu pengguna sehari-hari kini dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk merencanakan serangan mematikan.

Sebuah studi baru dari Universitas Cambridge mengungkap bahwa mantan anggota Boko Haram menggunakan model AI mutakhir untuk membantu operasi tempur dan kegiatan sehari-hari.

>>> Mantan Bos PlayStation: Game Single-Player Akan Tetap Ada

Penelitian yang dilakukan oleh pakar keamanan internasional Antonia Juelich ini menunjukkan betapa mudahnya pengamanan chatbot AI dapat dielakkan.

"AI telah membantu dalam perencanaan serangan, pemecahan masalah senjata, dan desain alat peledak, karena pengguna berhasil menghindari beberapa pengamanan," tulis Juelich dalam makalahnya.

Pengakuan Mantan Anggota Boko Haram

Penelitian ini didasarkan pada 57 wawancara tatap muka dengan 27 mantan anggota Boko Haram, termasuk komandan dan spesialis teknis.

Beberapa dari mereka mengaku terkejut betapa mudahnya merencanakan serangan berikutnya dengan bantuan AI.

"Kamu mengetik pertanyaan atau menggunakan suara, dan AI memberikan jawaban detail, seperti 'Bagaimana cara membuat bom?' lalu dia memberitahumu caranya," kata seorang mantan anggota.

"Sebelumnya, ledakan bom tidak sebesar itu, tetapi setelah mereka mempelajarinya, AI memberi tahu bahan kimia apa yang harus digunakan agar ledakan lebih dahsyat," tambahnya.

Mantan anggota lain menceritakan bagaimana rekrutan muda dengan mudah menghindari pengamanan dengan mengatakan kepada chatbot bahwa "mereka membutuhkannya untuk film atau sesuatu seperti itu."

>>> 5 Trik Sederhana yang Membantu Saya Mengontrol Kuota Data Selama Lebih dari Lima Tahun

Penggunaan AI oleh ISIS dan Kelompok Ekstremis Lain

Penelitian Juelich juga menyoroti bagaimana penggunaan AI di kalangan kelompok ekstremis, termasuk ISIS, telah beralih dari pembuatan propaganda menjadi pemberian saran taktis.

"Operator ISIS telah memberikan pelatihan AI secara langsung dan bantuan jarak jauh, dan kedua faksi Boko Haram telah membentuk unit AI khusus," tulis Juelich.