Pemerintah Prancis menyiagakan 20.000 polisi dan aparat keamanan untuk mengantisipasi potensi kerusuhan pada laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Maroko.

Pertandingan yang digelar di Houston, Amerika Serikat, itu tetap dikategorikan berisiko tinggi meski berlangsung lebih dari 5.000 kilometer dari Paris.

>>> Pelatih Belgia: Spanyol Bukan Favorit Juara karena Striker Tumpul

Kekhawatiran ini muncul setelah insiden kekerasan dan penangkapan massal terjadi saat kedua tim bertemu di semifinal Piala Dunia 2022.

Saat itu, 266 orang ditangkap di seluruh Prancis setelah Prancis mengalahkan Maroko 2-0. Seorang remaja berusia 14 tahun tewas tertabrak kendaraan dalam kerusuhan di Montpellier.

Antisipasi dan Imbauan

Dokumen internal intelijen Prancis menyebut laga ini berpotensi memicu kerumunan di ruang publik serta penggunaan kembang api, terlepas dari hasil akhir.

>>> Peneliti dan Aktivis Mahasiswa Uji Formil UU Polri ke MK

Pertandingan ini juga sarat dimensi sejarah dan sosial karena hubungan panjang Prancis dan Maroko, termasuk masa kolonial. Di Prancis terdapat komunitas besar warga keturunan Maroko.

Diperkirakan sekitar satu juta orang memiliki kewarganegaraan ganda, sementara ratusan ribu lainnya merupakan warga negara Maroko.

Menteri Olahraga Prancis, Marina Ferrari, menyerukan agar euforia pertandingan tidak berujung pada kekerasan. Otoritas Paris juga menyiapkan zona khusus bagi suporter di pusat kota.

>>> Quansah Dihukum Dua Laga, Tuchel Pusing Hadapi Norwegia

Area publik dan kafe diizinkan beroperasi hingga dini hari untuk mengakomodasi antusiasme warga.