Sebuah pulau kecil di tengah Danau Victoria menjadi sorotan dunia.

Luasnya hanya sekitar 2.000 meter persegi, kurang dari setengah lapangan sepak bola, namun dihuni lebih dari 500 orang.

>>> 5 Koleksi Tas Hermes Erling Haaland, Seri Birkin Jadi Favorit Sang Striker

Pulau bernama Migingo itu berada di perbatasan Kenya dan Uganda. Kepadatan penduduknya termasuk tertinggi di dunia, dan lokasinya yang kaya ikan menjadikannya objek sengketa kedua negara.

Awalnya hanya batu karang kecil, kini Migingo dipenuhi bangunan seng.

Di area terbatas itu berdiri rumah tinggal, warung, bar, rumah bordil, hingga kasino terbuka yang melayani nelayan dan pendatang.

Sengketa Dua Negara: Kenya vs Uganda

Meski kecil, Migingo memicu ketegangan politik panjang.

Kenya dan Uganda sama-sama mengklaim pulau ini, bahkan membentuk komite bersama pada 2016 untuk menyelesaikan perbatasan, namun buntu karena merujuk peta kolonial era 1920-an.

>>> 7 Cara Memilih Pompa Air Hemat Listrik agar Tagihan Tidak Membengkak

"Pulau ini sebenarnya tanah tak bertuan," kata Eddison Ouma, nelayan asal Uganda. Banyak yang menyebut konflik ini sebagai "perang terkecil di Afrika".

Di tengah sempitnya ruang dan ketidakjelasan hukum, kehidupan di Migingo tetap berjalan.

Nelayan datang dan pergi membawa hasil tangkapan yang laris di pasar internasional, namun infrastruktur terbatas, sanitasi buruk, dan hukum kabur menjadi realitas sehari-hari.

Ekspor ikan barramundi ke Uni Eropa dan Asia bernilai jutaan dolar. Uganda mulai mengerahkan polisi bersenjata dan marinir ke Migingo untuk memungut pajak nelayan.

>>> Banjir Rezeki, 3 Shio yang Diprediksi Mendapat Keberuntungan di Minggu Ketiga Juli 2026

Nelayan Kenya mengeluhkan perlakuan aparat Uganda yang melakukan pelecehan dengan tuduhan penangkapan ikan ilegal. Sebagai respons, Kenya mengerahkan marinir, nyaris memicu bentrokan.