Presiden Prabowo Subianto mengaku pernah menghentikan rencana penjualan sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) kepada pihak asing setelah menjabat sebagai kepala negara.

Perusahaan yang sempat akan dilepas antara lain PT PAL Indonesia, PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), dan PT Garuda Indonesia.

>>> Pangeran Harry Main Pickleball Tandai Hitung Mundur Invictus Games 2027

Hal itu disampaikan Prabowo dalam peresmian lima bendungan di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7).

"Banyak sekali perusahaan yang seolah-olah tadinya mau dijual ke asing saya larang. Tadinya industri pertahanan mau dijual.

PT PAL mau dijual, PT Pindad mau dijual, PTDI dibunuh, mau dijual. Kita bangkitkan sekarang," ujar Prabowo.

Ia menambahkan, PT PAL kini mampu memproduksi kapal perang hingga kapal selam.

Sementara PT Pindad baru memperoleh kontrak dari Arab Saudi untuk pengadaan senapan dan senapan mesin bagi militer negara tersebut.

Prabowo juga menyinggung Garuda Indonesia yang sempat akan dijual. Namun, ia mengklaim maskapai pelat merah itu kini mulai membaik.

"Garuda tadinya mau dijual saya larang, sekarang sudah mulai bangkit. Bulan depan sudah mulai untung dari sekian puluh tahun rugi," ujarnya.

>>> Prabowo Ingatkan Bahaya Media Sosial, Minta Rakyat Percaya Pemimpin

Penataan BUMN dan Penutupan Perusahaan Tidak Efisien

Prabowo mengaku terkejut mengetahui jumlah BUMN mencapai lebih dari 1.000 saat pertama menjabat. "Saya tidak pernah tahu bahwa BUMN kita begitu banyak.

Begitu saya dilantik jadi presiden, baru saya diberi tahu BUMN kita 1.077," ujarnya.

Menurutnya, banyaknya entitas tersebut dimanfaatkan untuk menyembunyikan pengelolaan uang negara. Pemerintah pun memutuskan melakukan penataan.

Ia mengklaim hingga saat ini telah ditutup sekitar 240 BUMN yang tidak efisien dan terus merugi. Jumlah itu ditargetkan bertambah menjadi 250 perusahaan pada akhir Juli.

Prabowo mengatakan pemerintah menargetkan total 800 BUMN tidak efisien akan ditutup hingga 31 Desember 2026.

Langkah tersebut telah menghasilkan penghematan hampir Rp70 triliun, terutama dari biaya operasional dan gaji direksi.

>>> Daftar Harga iPhone 17 dan iPhone 17 Pro Max Terbaru di Indonesia

Di sisi lain, Prabowo juga menyinggung pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia sebagai sovereign wealth fund yang menghimpun aset negara untuk memperkuat pembiayaan pembangunan dan pengelolaan investasi nasional.