Maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya.

Laporan terbaru dari Kaspersky menunjukkan lonjakan signifikan serangan malware yang menyamar sebagai aplikasi AI populer, dengan UMKM sebagai sasaran utama.

>>> Anime Naruto Diadaptasi ke Live Action, Buka Casting Global untuk Tim 7

Sepanjang Januari hingga April 2026, Kaspersky mendeteksi lebih dari 33.300 serangan terhadap sektor UMKM di seluruh dunia menggunakan perangkat lunak berbahaya berkedok layanan AI.

Angka ini meningkat hampir lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Vasily Kolesnikov, Security Expert Kaspersky, mengatakan lanskap ancaman terus berkembang dengan munculnya jebakan-jebakan baru.

"Selama empat bulan pertama tahun ini, solusi kami untuk usaha kecil dan menengah mendeteksi ratusan serangan," ujarnya.

Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi salah satu kawasan yang paling menjadi target. Kaspersky mencatat lebih dari 1.800 serangan terjadi di kawasan ini pada paruh awal 2026.

ChatGPT Palsu Mendominasi Serangan

Malware yang menyamar sebagai ChatGPT palsu mendominasi, mencakup sekitar 44 persen dari seluruh serangan. Disusul oleh DeepSeek sebesar 33 persen dan Claude sekitar 11 persen.

Managing Director Kaspersky Asia Pasifik, Adrian Hia, mengingatkan bahwa lebih dari 90 persen bisnis di Asia Tenggara adalah UMKM.

Hal ini membuat kawasan tersebut terus menjadi target utama para pelaku ancaman siber.

"Penjahat siber sering memandang UMKM sebagai sasaran empuk karena mereka memangsa potensi kelemahan keamanan yang mungkin muncul akibat keterbatasan sumber daya," kata Adrian.

>>> Rapper Blueface Takjub Temui Ayahnya Sedang Antar Paket Amazon Saat Live

Kaspersky menjelaskan sebagian besar file berbahaya yang ditemukan adalah Trojan. Malware ini menyamar sebagai aplikasi atau file yang tampak aman agar pengguna mau menginstalnya.