Penelitian Alzheimer selama ini berfokus pada otak, seperti plak amiloid dan patologi tau. Namun, organ lain juga memengaruhi kesehatan otak melalui hormon dan sinyal imun.

Otot rangka adalah salah satu organ tersebut. Saat berkontraksi, otot melepaskan molekul sinyal yang disebut myokin, yang dapat mencapai otak melalui aliran darah.

>>> Ramalan Shio 9 Juli 2026: 5 Shio Paling Beruntung dan Bahagia

Hubungan otot-otak ini menarik perhatian peneliti karena aktivitas fisik konsisten dikaitkan dengan penurunan risiko penurunan kognitif.

Peran Protein Cathepsin B

Salah satu molekul yang diteliti adalah cathepsin B (CTSB). Penelitian sebelumnya menghubungkan peningkatan CTSB akibat olahraga dengan memori yang lebih baik pada hewan dan manusia.

Studi terbaru berfokus pada CTSB yang diproduksi di otot rangka, bukan yang bekerja langsung di otak. Perbedaan ini penting karena CTSB tidak selalu bersifat menguntungkan.

Para peneliti menggunakan tikus model Alzheimer dan memberikan perlakuan yang menargetkan otot untuk meningkatkan produksi CTSB, tanpa menyentuh otak secara langsung.

Setelah enam bulan, tikus yang dirawat menunjukkan koordinasi motorik dan memori yang lebih baik dibandingkan tikus Alzheimer yang tidak dirawat.

Perawatan juga meningkatkan neurogenesis hipokampus dewasa, yaitu pembentukan neuron baru di area otak yang penting untuk memori.

Namun, perawatan tidak mengurangi penumpukan plak amiloid atau neuroinflamasi. Tikus tetap berkinerja lebih baik meskipun penanda klasik penyakit masih ada.

Resiliensi, Bukan Obat

Studi ini tidak menunjukkan bahwa cathepsin B menyembuhkan Alzheimer. Sebaliknya, CTSB dari otot membantu otak mengatasi stres terkait penyakit, sebuah konsep yang disebut resiliensi.

Alih-alih membersihkan patologi penyakit, terapi semacam ini dapat membantu mempertahankan fungsi dengan mendukung plastisitas saraf meskipun ada kerusakan.