Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia tidak lagi mengimpor solar sejak awal tahun ini.

Hal itu disampaikan Bahlil dalam acara Peluncuran B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kamis (9/7).

>>> Pimpinan DPR Bantah Tunda Pembahasan RUU Pemilu

Menurut Bahlil, konsumsi solar dalam negeri mencapai sekitar 38 juta hingga 40 juta kilo liter (KL) per tahun.

Dari jumlah tersebut, sekitar 3 juta-4 juta KL sebelumnya dipenuhi dari impor.

"Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita dan ini adalah pertama kali, Pak," ujar Bahlil di hadapan Presiden.

Percepatan Program B50

Bahlil mengakui bahwa mencapai program B50 tidak mudah. Biasanya, kenaikan campuran biodiesel dilakukan bertahap 5 persen atau maksimal 10 persen dalam tiga tahun.

Namun, kali ini program B50 bisa berjalan hanya dalam waktu setahun berkat arahan Presiden Prabowo.

"Perintah Bapak Presiden waktu itu, bagaimana caranya pun B50 harus bisa kita luncurkan di 2026, karena kami maknai arahan dan perintah Bapak Presiden tidak hanya persoalan B50-nya, tapi persoalan kedaulatan, kemandirian, dan harga diri bangsa," jelas Bahlil.

Meski waktunya singkat, Bahlil memastikan kualitas B50 lebih baik dari B40. Sebelum diluncurkan, telah dilakukan uji coba selama enam bulan di berbagai moda transportasi.

>>> Jadwal Perempat Final Piala Dunia 2026: 8 Tim Terbaik Bertarung

"Kereta api, mobil, bus, bahkan Mercedes pun dites. Kapal-kapal semuanya kami tes.

Hasilnya ternyata kualitas B50 jauh lebih baik daripada B40," pungkasnya.

B50 adalah bahan bakar biodiesel yang terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit (FAME) dan 50 persen solar fosil.

Program ini merupakan kelanjutan dari B20, B30, dan B40.

Dasar hukum pelaksanaan B50 adalah Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 dan Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.

K/EK. 01/MEM.

>>> Prabowo Resah: Indonesia Bisa B50 Tapi Belum Tembus Piala Dunia

E/2026.