Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa penentuan harga listrik yang akan diekspor Indonesia ke Singapura masih dalam tahap negosiasi.

Ia menekankan bahwa harga yang disepakati harus memberikan keuntungan yang seimbang bagi kedua negara.

>>> Pramono Akan Kaji Usulan Tarif Langganan Transjakarta Rp200 Ribu per Bulan

"Terkait dengan harga listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kita masih menegosiasikan harga. Regulasi kita memang menempatkan harga itu di pemerintah.

Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan," ujar Bahlil dalam keterangan resmi, Selasa (7/7).

Rencana ekspor listrik ini dibahas dalam pertemuan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dengan pemerintah Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (6/7).

Pembahasan tersebut merupakan kelanjutan dari kerja sama sektor energi yang telah disepakati sejak tahun lalu.

Selain ekspor listrik hijau, pembahasan mencakup pengembangan kawasan industri hijau dan carbon capture and storage (CCS).

"Dari satu tahun lalu kan kita sudah melakukan penandatanganan MoU. Ada tiga MoU kita.

Satu adalah ekspor listrik ke Singapura, listrik hijau, kedua kawasan industri hijau, dan yang ketiga adalah untuk carbon capture storage atau CCS-nya.

Ketiganya merupakan satu kesatuan yang kita tandatangani sejak tahun kemarin," ujar Bahlil usai pertemuan.

Indonesia menginginkan kesepakatan yang tidak hanya membuka peluang ekspor energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang seimbang bagi kedua negara.

>>> 7 Cara Menanamkan Kejujuran pada Anak Sejak Dini

"Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu," ungkapnya.

Rencana perdagangan listrik lintas batas ini menjadi bagian dari penguatan hubungan ekonomi kedua negara, khususnya dalam pengembangan energi hijau dan transisi energi.