Sebanyak 735 anak pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia mendapatkan beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) untuk melanjutkan pendidikan SMA di Indonesia.

Mereka merupakan lulusan Community Learning Center (CLC) tingkat SMP di Sabah dan Sarawak. Total ada 1.700 lulusan CLC setiap tahunnya.

>>> MSCI Masih Bekukan Saham RI, Tak Ada Tambahan Emiten di Indeks Global

Salah satu penerima beasiswa adalah Maria Agreda (14), yang tumbuh di Kundasang, kaki Gunung Kinabalu. Orang tuanya bekerja sebagai penggarap lahan sayur sewaan.

Maria dan keluarganya belum memiliki izin tinggal resmi di Malaysia. Meski demikian, ia tetap bersekolah di CLC Kundasang sejak SD hingga lulus SMP pada 2026.

CLC merupakan layanan pendidikan formal hasil kesepakatan Indonesia-Malaysia sejak 2011. Awalnya untuk anak PMI di ladang sawit, kini diperluas ke sektor lain.

Ada sekitar 22 ribu siswa CLC di Sabah dan Sarawak di bawah koordinasi Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Tanpa dokumen keimigrasian, mereka sulit melanjutkan ke SMA formal di Malaysia.

Program ADEM didanai oleh Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Selain ADEM, ada juga beasiswa dari yayasan pendidikan melalui program Gema Cita.

Maria yang bercita-cita menjadi ilmuwan akan bersekolah di Yogyakarta. "Saya lanjut SMA di Yogyakarta, senang sekaligus sedih karena harus meninggalkan orang tua di sini," ujarnya.

>>> Sylvester Stallone Perjuangkan Warisan Film di Usia 80 Tahun

Ibunda Maria yang berasal dari Larantuka, Flores, NTT, mengaku berat melepas anaknya. Namun, ia berharap beasiswa ini membuka masa depan yang lebih baik.

Para penerima beasiswa repatriasi ADEM tahun 2026 disebar ke 134 SMA di 12 provinsi. Mereka menggunakan surat perjalanan laksana paspor untuk kembali ke Indonesia.