Jonathan Anderson langsung memulai babak baru di Dior dengan koleksi haute couture musim dingin 2026/2027. Ia tidak sekadar merancang gaun, melainkan mendefinisikan bagaimana Dior akan dimaknai publik.

Inspirasi utama koleksi ini bukan arsip Christian Dior, melainkan karya pematung Amerika, Lynda Benglis.

>>> Scaloni Bongkar Rahasia Argentina Comeback Lawan Mesir

Anderson melihat kesamaan mendasar antara seni pahat dan haute couture: keduanya mengubah material datar menjadi objek tiga dimensi melalui tangan manusia.

Teknik menjadi protagonis utama. Lipit tangan, simpul, draping, dan pembentukan volume menjadi bahasa visual yang dominan.

Alih-alih membiarkan kain mengikuti tubuh, Anderson memaksa kain menciptakan tubuhnya sendiri.

Look pembuka menampilkan stole shearling abu-abu berlipit di atas blus satin sutra ecru yang diikat longgar, dipadukan celana hitam dengan lipit tangan dan simpul trompe-l'œil.

Tidak ada dramatisasi berlebihan, hanya ketenangan yang memperlihatkan tingkat kesulitan pengerjaan.

Anderson mengaburkan batas antara tekstil dan material industri.

Permukaan metalik, efek iridescent, kain menyerupai kertas, hingga ilusi kawat melalui jaring perak lembut menghadirkan paradoks: benda keras ternyata lentur, material lembut justru memiliki ketegasan pahatan.

Puncak pendekatan ini adalah look "Armadillo": atasan dan rok mille-feuille perak dari rajutan, lembaran foil perak, payet, dan bunga dogwood sifon putih.

Dari kejauhan tampak seperti instalasi seni kontemporer; dari dekat, kompleksitas konstruksinya hampir mustahil dipercaya dikerjakan dengan tangan.

Anderson membaca couture bukan sebagai simbol kemewahan, melainkan medium eksperimen. Koleksi ini juga membawa penelitian ke India, khususnya Ahmedabad di Gujarat, tempat Benglis memiliki hubungan panjang.

Ia mengangkat tradisi chintz abad ke-18, kain katun bermotif yang mengubah sejarah dekorasi Eropa.