Fragmen kain antik chintz dan indiennes diaplikasikan pada tas Petit Dîner dan Lady Dior mini, menjadikannya lebih menyerupai artefak sejarah.

>>> Bank bjb Sediakan ORI030, Permudah Akses Investasi Surat Berharga Negara

Ahmedabad yang hijau dipertemukan dengan Santa Fe di New Mexico, tempat Benglis juga tinggal dan bekerja.

Dua lanskap bertolak belakang diterjemahkan menjadi dialog warna. Motif bunga hadir berdampingan dengan tekstur tanah liat, batu, logam, bahkan gurun.

Hasilnya terasa organik meski beberapa look tampak konseptual.

Anderson tidak melupakan warisan Dior. Bar Jacket muncul kembali pada look ke-26, tetapi tidak diperlakukan sebagai benda museum.

Tweed hitam dengan tepian berjumbai buatan tangan dipadukan rok lilit berlipit matahari yang arsitektural.

Pendekatan serupa terlihat pada aksesori: sepatu ujung kotak memanjang, taburan mikro-payet, bunga transparan, ornamen logam berlipit.

Perhiasan menggunakan mother-of-pearl, kristal batu, oniks hijau ukir, hematit, kornelian, hingga micromosaic dari pengrajin Prancis dan India.

Seluruh koleksi adalah dialog lintas disiplin antara seni pahat, tekstil, sejarah dekoratif, dan keahlian tangan.

Anderson menekankan apresiasi terhadap para artisan dari Jepang, India, dan Prancis yang menciptakan setiap busana dengan teliti.

Tampilan terakhir adalah gaun pengantin: chiffon putih berlipit tangan dengan ekor panjang, dilapisi renda bermotif bunga kaktus dan pakis, disulam dengan manik-manik dan bunga dandelion berbulu putih.

Gaun itu menyerupai lanskap hidup yang bergerak mengikuti langkah model.

Untuk kali kedua di panggung couture, Anderson tidak membuat revolusi gaduh. Ia membangun fondasi intelektual yang tenang namun emosional.

>>> Google Mulai Jual Galaxy Watch 8 di Toko Online-nya

Jika ini titik awal, laboratorium yang ia bangun hari ini akan menjadi ruang eksperimen yang menarik dan unik.