Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa penerapan metode tanam modern Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) dapat meningkatkan pendapatan petani hingga Rp16,3 juta per bulan.

Target tersebut dicapai melalui peningkatan produktivitas padi hingga 10 ton per hektare dengan pola tanam tiga kali setahun di lahan irigasi.

>>> Protes Penggusuran Lahan, 4 Warga Adat Tananahu Maluku Ditangkap

"Kalau metode ini optimal diterapkan, pendapatan petani yang tadinya sekitar Rp5 juta per bulan bisa naik menjadi Rp16,3 juta.

Itu target yang kita kejar," kata Amran dalam konferensi pers di Kementan, Jakarta Selatan, Kamis (9/7).

Pemerintah saat ini mempercepat transformasi menuju pertanian modern melalui program intensifikasi yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani.

"Hari ini kami kumpulkan kepala dinas, kemudian direktur wilayah PPL se-Indonesia. Tujuannya adalah kita melakukan akselerasi dengan intensifikasi," ujarnya.

Salah satu strategi yang didorong adalah penerapan metode PM-AAS yang telah diuji coba selama dua tahun di sekitar 1.600 hektare lahan.

Hasil uji coba menunjukkan produktivitas padi mampu mencapai 9 ton hingga 12 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional yang saat ini sekitar 5,5 ton per hektare.

"Contoh sederhana sekarang ada metode baru, metode PM-AAS. Ini sudah 1.600 hektare kita uji coba.

Produksinya 10 ton bahkan ada 12 ton. Minimal 9 ton," ujar Amran.

Apabila produktivitas nasional naik tiga ton per hektare pada lahan irigasi seluas 1 juta hektare, tambahan produksi beras nasional dapat meningkat signifikan.

"Katakanlah naik 3 ton saja, kalau 1 juta hektare kita tanami berarti 3 juta ton.

Kalau ditanam tiga kali dalam setahun khusus daerah irigasi berarti 9 juta ton gabah. Setelah rendemen menjadi sekitar 5 juta ton beras tambahan.