Sebastian Gunawan Signature 2027: Kebebasan dalam Balutan Jazz & Jasper
Euforia Paris Fashion Week Haute Couture Fall/Winter 2026-2027 terasa hingga Jakarta. Sebastian Gunawan Signature menggelar peragaan bertajuk 'Jazz & Jasper' di Hotel Mulia Jakarta.
Label yang digawangi duo desainer Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese ini menghadirkan koleksi glamor dengan pendekatan baru. Koleksi ini merayakan kebebasan di tengah situasi negeri yang penuh tekanan.
>>> Sinopsis Wrath of Man di Bioskop Trans TV Hari Ini, Tayang Pukul 20.00 WIB
Antusiasme terlihat sejak di depan pintu Grand Ballroom. Para tamu undangan berkerumun dengan dress code serba hitam, namun beberapa memilih 'melanggar' dengan warna mencolok.
Ayla Dimitri tampil dalam A-line mini dress oranye terang. "Tapi ini tetap Sebastian Gunawan," ujarnya kepada Wolipop, melengkapi gaya dengan tas Baguette Fendi hijau neon.
Inspirasi Era Roaring Twenties
Tajuk 'Jazz & Jasper' merujuk pada era 1920-an yang dijuluki Roaring Twenties. Periode ini menandai transisi kultur yang memberi ruang bagi perempuan untuk bergerak lebih bebas.
Busana tidak lagi berkorset berkat inovasi perancang seperti Paul Poiret dan Coco Chanel. "Sebuah masa yang memberikan kebebasan pada wanita secara absolut," ungkap Seba usai peragaan.
Kehadiran jazz sebagai genre musik ekspresif turut merefleksikan perubahan zaman. Hal ini melahirkan generasi perempuan yang dikenal sebagai kaum flapper.
Seba dan Cristina menginterpretasikan inspirasi tersebut ke dalam kreasi khas mereka. Perpaduan tailoring terstruktur, rok berumbai, siluet low waist, tulip skirt, dan cocoon diperkaya permainan transparansi.
>>> Argentina vs Mesir: Kontroversi VAR dan 'Anak FIFA' Panaskan Medsos
Aksesori buatan Rinaldy A. Yunardi melengkapi tampilan para model.
Kombinasi warna dan motif tak terduga seperti merah dengan emas, garis geometris dengan ukiran Art Nouveau, memperkuat energi kebebasan.
Teknik baru seperti pengaplikasian benang wol yang ringkih turut dieksplorasi. Strong shoulders mendominasi, baik dalam bentuk bahu mengotak atau ornamentasi aplikasi sebagai statement.
"Selain era 20-an, untuk memberi kesan modern kami juga mengeksplor era 80-an ketika aksentuasi pada bahu mulai populer," ungkap Cristina.
Hal ini sebagai bentuk kestabilan perempuan agar setara dengan pria.
Filosofi kebebasan ini terasa relevan di tengah maraknya aksi pembungkaman pendapat dan persekusi terhadap kelompok minoritas.
>>> Vivo X500 Pro Max Lolos TKDN, Siap Ikuti Tren 'Pro Max'
Meski tidak semua orang memiliki akses merasakan kebebasan yang ditawarkan, pesan koleksi ini tetap kuat.
Update Terbaru
Celine Evangelista Bercadar saat Antar Anak ke Pesantren, Curhat Beratnya Berpisah
Rabu / 08-07-2026, 18:50 WIB
Festival Bayreuth 150 Tahun: Tanpa Wagner, Bagaimana Musik Klasik?
Rabu / 08-07-2026, 18:50 WIB
CEO Palantir Kritik Model Bisnis AI Berbasis Token, Dinilai Tidak Masuk Akal
Rabu / 08-07-2026, 18:50 WIB
Coway Debut di IndoBuildTech 2026, Perkenalkan Pemurni Air Terbaru Slim Stand
Rabu / 08-07-2026, 18:50 WIB
Coba Trik Ini: Satu Fitur Samsung Gantikan Semua Aplikasi di Layar Utama
Rabu / 08-07-2026, 18:50 WIB
Bali Resmikan Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Pertama
Rabu / 08-07-2026, 18:49 WIB
PM Modi dan Presiden Prabowo Resmikan Restorasi Candi Prambanan
Rabu / 08-07-2026, 18:49 WIB
Wasit Argentina Pimpin Perancis vs Maroko, Les Bleus Tak Gentar
Rabu / 08-07-2026, 18:49 WIB
Daftar Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026, Persija dan Persib Sumbang Paling Banyak
Rabu / 08-07-2026, 18:49 WIB
Game Terbaru 'Echoes of Aincrad' Resmi Rilis Juli Ini, Masuk Dunia SAO
Rabu / 08-07-2026, 18:49 WIB
Glen Powell Umumkan Hubungan dengan Michelle Randolph Lewat Unggahan Media Sosial
Rabu / 08-07-2026, 18:33 WIB
KTT NATO di Ankara Dibayangi Ketegangan dengan Iran
Rabu / 08-07-2026, 18:33 WIB
Debat Sengit Demokrat Michigan: Stevens vs El-Sayed soal Dana Kampanye dan Israel
Rabu / 08-07-2026, 18:29 WIB
Arthur Fery Hadapi Flavio Cobolli di Perempatfinal Wimbledon
Rabu / 08-07-2026, 18:29 WIB







