>>> 8 Sunscreen Lokal SPF 50 untuk Lindungi Kulit dari Sinar Matahari dan Flek Hitam

Bagi sebagian orang, paket selamatan mewah ini bukan sekadar doa biasa, melainkan bagian dari ritual pesugihan.

Meski pengelola dan tokoh agama setempat menegaskan bahwa kegiatan tersebut adalah bentuk ziarah dan sedekah biasa, sebagian masyarakat menghubungkannya dengan praktik mencari rezeki instan.

Fenomena ini mirip dengan tempat-tempat angker lain di Jawa, di mana lokasi bersejarah atau memiliki cerita mistis sering dimanfaatkan untuk tujuan duniawi.

Kekuatan sugesti dan cerita turun-temurun membuat orang percaya bahwa berkurban di Gunung Kawi bisa mendatangkan kekayaan.

Perspektif Sosial dan Agama

Dari sudut pandang agama, khususnya Islam dan Hindu-Buddha yang kuat di Jawa, praktik pesugihan sangat bertentangan dengan ajaran.

Banyak kyai dan tokoh masyarakat mengecamnya sebagai perbuatan syirik dan berbahaya.

Imbalan pesugihan sering dikaitkan dengan pengorbanan keluarga, kesehatan, atau umur pendek. Meski demikian, kepercayaan ini tetap hidup karena faktor ekonomi dan ketidakpuasan terhadap cara mencari nafkah secara halal.

Sementara itu, pihak pengelola wisata dan pemerintah daerah lebih menekankan sisi positif Gunung Kawi sebagai destinasi alam dan religi yang sah.

Pendakian resmi, ziarah, dan wisata edukasi justru didorong untuk mengurangi kesan negatif.

>>> Rupiah Anjlok ke Rp18.066 per Dolar AS, Ini Faktor Penyebabnya

Namun, popularitas pesugihan juga membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar melalui jasa selamatan, penginapan, dan ojek.