Nilai tukar rupiah kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, pada pembukaan perdagangan Kamis (9/7/2026), rupiah spot berada di level Rp18.066 per dolar AS.

>>> Trump Konfirmasi Serangan ke Pulau Kharg, Iran Kehilangan 90% Ekspor Minyak

Posisi tersebut melemah 52 poin atau 0,29 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat tipis 0,02 persen ke level 101,010.

Faktor Eksternal dan Domestik

Pelemahan rupiah terjadi karena tekanan eksternal dari penguatan dolar AS dan memburuknya sejumlah indikator ekonomi domestik.

Penguatan dolar AS didorong ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Prospek suku bunga tinggi membuat investor memburu aset berbasis dolar, menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

>>> Trump Hentikan Gencatan Senjata dengan Iran, Perang Baru Mengancam

Bank Indonesia (BI) sebelumnya menyatakan pelemahan rupiah terutama karena sikap hawkish pejabat The Fed yang mendorong Dollar Index bertahan di level tinggi dalam setahun terakhir.

Selain itu, S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara berisiko diturunkan dari emerging market menjadi frontier market.

Dari sisi fundamental, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun tiga bulan berturut-turut menjadi 117,8 pada Juni 2026, lebih rendah dari posisi Mei 120,9.

Kombinasi faktor tersebut memperkuat kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik dan membebani pergerakan rupiah.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah hari ini bergerak fluktuatif dan ditutup di kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.

>>> Xiaomi Luncurkan Mijia Washing Machine Pro 10kg dengan Teknologi Super Electrolysis

"Sedangkan untuk perdagangan besok (9 Juli 2026), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.010-Rp18.060," kata Ibrahim.