Harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memudar. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara yang menjadi dasar penghentian konflik telah berakhir.

Trump kemudian memerintahkan serangan baru setelah Iran membalas dengan menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.

>>> Xiaomi Luncurkan Mijia Washing Machine Pro 10kg dengan Teknologi Super Electrolysis

Eskalasi ini terjadi setelah AS lebih dulu membombardir sejumlah target di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.

Situasi tersebut kembali memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi pecahnya konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Lebih dari tiga pekan sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman untuk gencatan senjata, kondisi di lapangan justru kembali memanas.

Pilihan Trump Semakin Terbatas

Para analis menilai perkembangan ini memperlihatkan betapa sulitnya Trump mewujudkan kesepakatan damai yang bersifat menyeluruh. Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai pilihan yang dimiliki Trump kini semakin terbatas.

Jika kembali meningkatkan operasi militer, risiko pecahnya perang berskala penuh akan semakin besar.

Sebaliknya, jika memilih mundur, Iran dinilai bisa semakin yakin bahwa mereka mampu memanfaatkan pengaruhnya terhadap jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.

Trump disebut masih berharap tekanan militer dapat memaksa Teheran kembali ke meja perundingan untuk membahas program nuklir Iran.

>>> Gaun Zendaya di Premiere 'The Odyssey' Diterbangkan Khusus Pakai Jet Pribadi

Namun, banyak ahli menilai peluang Iran memberikan konsesi besar masih sangat kecil.

“Trump telah memojokkan dirinya sendiri,” kata Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah. “Baik melalui cara militer maupun diplomatik, tampaknya dia tidak akan mendapatkan banyak keuntungan dari Iran.”