Keputusan OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, untuk menaikkan target produksi minyak sebesar 188 ribu barel per hari mulai Agustus 2026 diperkirakan tidak akan berpengaruh besar terhadap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia.

Sebelumnya, OPEC juga telah menyetujui kenaikan produksi dengan jumlah yang sama untuk Juni dan Juli.

>>> Nintendo Switch Online Tambah Wario Land dan Game Klasik Lain Juli 2026

Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai tambahan produksi tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan minyak dunia yang mencapai sekitar 100 juta barel per hari.

"Tak terlalu berpengaruh kepada kebijakan naik turunnya harga," ujar Hadi kepada CNNIndonesia. com, Selasa (7/7).

Menurut Hadi, tambahan produksi OPEC sebesar 188 ribu barel per hari hanya setara sekitar 0,18 persen dari total pasokan minyak global.

Ia menambahkan bahwa jalur pelayaran Selat Hormuz telah kembali dibuka sepenuhnya, sehingga pasokan minyak dunia kembali lancar dan mendorong harga minyak turun ke kisaran US$70 per barel.

>>> Moonlight Peaks Resmi Hadir di Nintendo Switch dan Switch 2

Faktor yang lebih menentukan pergerakan harga BBM di Indonesia adalah harga minyak mentah dunia yang dipengaruhi kondisi geopolitik serta keseimbangan pasokan dan permintaan global.

Selain itu, penyesuaian harga BBM di Indonesia mengacu pada Indonesian Crude Price (ICP) yang diterbitkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setiap bulan.

Dengan demikian, kenaikan maupun penurunan harga BBM tidak langsung mengikuti pergerakan harian harga minyak dunia.

"Dua minggu actual dan dua minggu prediction.

>>> Pokémon Champions Tembus 10 Juta Unduhan di Seluruh Dunia

Kenaikan dan penurunan (harga) BBM RI tidak the same day dengan kenaikan (harga) crude dunia, harus ada jeda," jelas Hadi.