Infrastruktur tersebut juga dinilai mampu meningkatkan redundansi jaringan sekaligus menjaga layanan tetap stabil untuk kebutuhan bisnis yang bersifat mission-critical, seperti disaster recovery dan beban kerja AI.

Peningkatan infrastruktur ini dilakukan di tengah pertumbuhan industri data center di Indonesia.

Berdasarkan laporan Indonesia Data Center - Market Share Analysis, Industry Trends & Statistics, Growth Forecasts (2026–2031), nilai pasar data center nasional diproyeksikan meningkat dari sekitar US$1,83 miliar pada 2026 menjadi US$3,48 miliar pada 2031, dengan pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 13,71%.

Direktur Sales & Marketing Indonet Yudie Haryanto mengatakan pertumbuhan data center tidak hanya meningkatkan kapasitas komputasi, tetapi juga kebutuhan akan interkoneksi yang cepat, aman, dan berlatensi rendah.

Pengembangan jaringan fiber optik bawah tanah dan peningkatan kapasitas backbone ditujukan untuk menghadirkan infrastruktur konektivitas yang andal dan dapat diskalakan sesuai kebutuhan pelanggan.

Penguatan jaringan tersebut juga disebut akan mendukung pengembangan ekosistem data center di Indonesia, termasuk CGK Campus berkapasitas 500 MW di Bekasi yang tengah dikembangkan Digital Edge Indonesia.

>>> Xiaomi Siap Rilis HyperOS 3.3 Beta Berbasis Android 17 Pekan Depan

Integrasi platform konektivitas Indonet dengan platform data center Digital Edge diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan layanan AI, cloud, dan ekonomi digital di Indonesia.