Piala Dunia 2026 diprediksi menguntungkan FIFA, sementara tuan rumah Amerika Serikat (AS) justru merugi hingga triliunan rupiah. Perubahan model bisnis FIFA dan faktor geopolitik menjadi pemicu utama.

Goldman Sachs memperkirakan ajang sepak bola terbesar itu akan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan belanja masyarakat, dan mengerek pertumbuhan ekonomi selama turnamen berlangsung.

>>> Selat Hormuz Membara Lagi, Maskapai Eropa Hindari Rute Lewat Iran

Turnamen digelar pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko.

Sebanyak 78 pertandingan dimainkan di 11 kota metropolitan AS yang menyumbang sekitar sepertiga PDB nasional.

Goldman Sachs melaporkan Piala Dunia akan menciptakan sekitar 40 ribu lapangan kerja tambahan pada Juni dan 10 ribu lagi pada Juli.

Sebagian besar berasal dari sektor perhotelan, pariwisata, ritel, dan transportasi.

Namun, efek tersebut hanya bersifat sementara. Setelah kompetisi berakhir, sekitar 15 ribu pekerjaan temporer diproyeksikan hilang pada Agustus.

Penjualan ritel AS diperkirakan terdongkrak 0,3 poin persentase pada Juni dan 0,1 poin persentase pada Juli.

Belanja wisatawan domestik dan mancanegara juga mendorong pertumbuhan ekonomi AS sekitar 0,1 poin persentase pada kuartal II 2026 dan 0,05 poin persentase pada kuartal III.

Lonjakan permintaan hotel, restoran, dan transportasi diperkirakan memicu kenaikan inflasi jangka pendek. Inflasi inti AS diproyeksikan naik sekitar 0,03 poin persentase pada Juni sebelum kembali mereda.

FIFA Raup Pendapatan Besar, Kota Tuan Rumah Boncos

Meski ada manfaat ekonomi, distribusinya tidak merata. FIFA diproyeksikan mengantongi pendapatan sekitar US$8,9 miliar atau sekitar Rp160,16 triliun.

Sebaliknya, 11 kota tuan rumah di AS diperkirakan menghadapi defisit kolektif lebih dari US$250 juta atau sekitar Rp4,5 triliun.