Kerugian ini dipicu perubahan model bisnis FIFA.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA mengelola langsung turnamen tanpa komite penyelenggara lokal.

>>> Satgas Cartenz Identifikasi 7 Pelaku Pembakaran Pesawat AMA

Organisasi itu menguasai hampir seluruh sumber pendapatan, mulai dari hak siar, sponsor, penjualan tiket, paket hospitality, hingga merchandise.

Sementara itu, pemerintah kota dan negara bagian menanggung biaya keamanan, transportasi, renovasi stadion, administrasi, dan penyelenggaraan kawasan fan zone.

Ekonom olahraga dari Smith College, Andrew Zimbalist, menilai skema tersebut membuat kota penyelenggara berada pada posisi tidak menguntungkan.

"Ada biaya yang sangat besar bagi kota-kota tuan rumah yang menggelar 4-8 pertandingan.

Menurut saya, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memperoleh keuntungan ekonomi dari Piala Dunia karena mereka tidak mendapatkan pendapatannya, tetapi justru menanggung biayanya," katanya.

Kritik serupa disampaikan ekonom olahraga Victor Matheson dari College of the Holy Cross.

Menurut dia, sebagian besar uang yang dibelanjakan penonton untuk tiket langsung masuk ke kantong FIFA, tidak berputar di ekonomi lokal.

Matheson juga menilai banyak proyeksi dampak ekonomi terlalu optimistis. Wisatawan Piala Dunia sering kali hanya menggantikan wisatawan reguler, sehingga tambahan aktivitas ekonomi tidak sebesar yang digaungkan.

Optimisme terhadap lonjakan wisatawan mulai dipertanyakan.

Survei American Hotel and Lodging Association menunjukkan sekitar 80 persen hotel di 11 kota tuan rumah melaporkan tingkat pemesanan kamar masih di bawah proyeksi awal.

Hambatan visa dan ketidakpastian geopolitik menjadi penyebabnya.

Temuan itu sejalan dengan penelitian University of Toronto yang menunjukkan 12 dari 14 edisi Piala Dunia terakhir justru menghasilkan kerugian ekonomi bersih bagi wilayah penyelenggara.

>>> Meetion Mega V1: Mouse Gaming 8.000Hz dengan 12 Tombol MMO dan Bantalan Jari Kelingking

Manfaat ekonomi ajang olahraga besar kerap lebih kecil dari proyeksi karena sebagian besar pendapatan mengalir ke penyelenggara, sementara biaya ditanggung pemerintah daerah.