Jet lag bukan sekadar kelelahan biasa setelah perjalanan jauh. Kondisi ini terjadi ketika Anda melintasi beberapa zona waktu lebih cepat daripada kemampuan ritme sirkadian beradaptasi.

Jam internal tubuh berjalan dalam siklus sekitar 24 jam dan mengatur tidur, kewaspadaan, suhu tubuh, pencernaan, hormon, serta suasana hati.

>>> Argentina Tembus Perempat Final Usai Hajar Mesir 3-2, Messi Cetak Gol

Sinyal utama untuk jam ini adalah cahaya.

Sel khusus di mata mendeteksi cahaya dan mengirim sinyal ke nukleus suprakiasmatikus, area kecil di otak yang membantu mengoordinasikan waktu sirkadian.

Ketika cahaya siang hari lokal tidak lagi sesuai dengan jadwal yang diharapkan tubuh, gejala jet lag pun muncul.

Anda mungkin merasa lelah di tengah sore, terjaga pada pukul 3 pagi, lapar di waktu yang tidak biasa, atau pikiran terasa kabur setelah penerbangan jarak jauh.

Tubuh Anda sudah tiba, tetapi jam biologis masih tertinggal.

Gejala Umum Jet Lag

Jet lag memengaruhi setiap orang secara berbeda.

Gejala yang paling umum meliputi kesulitan tidur atau tetap tertidur, kelelahan di siang hari, penurunan konsentrasi dan kewaspadaan, mudah marah atau suasana hati rendah, ketidaknyamanan pencernaan, serta rasa lapar pada waktu yang tidak biasa.

Semakin banyak zona waktu yang Anda lintasi, semakin intens penyesuaian yang diperlukan.

Penerbangan dari New York ke Paris, misalnya, melintasi enam zona waktu, cukup untuk mengganggu tidur, waktu makan, dan tingkat energi selama beberapa hari.

Pengaruh Arah Perjalanan: Timur vs Barat

Arah perjalanan memainkan peran besar dalam jet lag. Perjalanan ke timur seringkali lebih sulit karena biasanya mengharuskan jam tubuh bergerak lebih awal.