Bank Jakarta memilih strategi pertumbuhan yang sehat dan berkualitas di tengah meningkatnya tekanan biaya dana (cost of fund) dan dinamika industri keuangan yang semakin menantang.

Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan perseroan tidak akan mengejar pertumbuhan secara agresif di tengah kondisi pasar yang terus berubah.

>>> Siap Berlaku Besok, Pajak Dagang Online Mulai 1 Juli 2026

Sebaliknya, Bank Jakarta akan lebih selektif dalam mengembangkan bisnis dengan mengutamakan kualitas aset dan keberlanjutan pertumbuhan.

"Kita enggak kejar-kejaran nyari pertumbuhan besar, tetapi yang kita kejar adalah pertumbuhan yang sehat dan berkualitas," ujar Agus dalam bincang-bincang "Shaping the Next Era of Indonesia's Capital Market", Investor Day 2026, di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Tantangan Biaya Dana

Menurut dia, industri perbankan saat ini menghadapi tantangan baru yang berbeda dibanding beberapa tahun lalu.

Selain ketidakpastian ekonomi global, perbankan juga mulai menghadapi kenaikan biaya dana yang berpotensi menekan kinerja industri.

Agus mengungkapkan bunga deposito dalam lelang dana sempat menyentuh level 11,5 persen.

>>> Minyak Iran Hanya Laku ke China, Negara Lain Masih Hati-Hati

Kondisi tersebut menjadi sinyal meningkatnya biaya penghimpunan dana yang harus diantisipasi oleh industri perbankan.

"Ini sudah warning bagi perbankan. Artinya cost of fund perbankan ini akan naik sangat signifikan ke depan," katanya.

Meski demikian, Agus menegaskan kenaikan biaya dana bukan berarti menghambat langkah ekspansi Bank Jakarta.

Perseroan tetap menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus mempertahankan kualitas portofolio.

>>> Honda Resmikan Enam Dealer Baru dari Jawa Tengah hingga Merauke

Salah satu langkah yang dilakukan adalah melakukan diversifikasi sumber pendanaan, termasuk mengoptimalkan potensi dana murah yang berasal dari ekosistem Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.