Para pemimpin negara kaya, seperti Inggris dan Jerman, kerap berdalih bahwa kontribusi emisi mereka yang kecil membuat aksi iklim tidak berarti.

Argumen ini terdengar masuk akal di permukaan.

>>> Cara Cek Jadwal Pencairan Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Tahun 2026

Mantan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak pada 2023 menyatakan, jika pangsa emisi global Inggris kurang dari 1%, mengapa warganya harus berkorban lebih dari negara lain?

Scott Morrison, mantan PM Australia, juga menggunakan angka 1,3% untuk menolak tuduhan bahwa Australia tidak berbuat cukup.

Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Juli lalu menunjuk pada 2% emisi Jerman untuk mendukung celah dalam target iklim Eropa.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyusul dengan menyebut pangsa 6% Uni Eropa.

Tony Blair, mantan PM Inggris yang kini menjadi konsultan negara minyak, dalam wawancara radio bulan lalu mendesak Inggris meninggalkan target ekonomi bersih dengan alasan 1% emisi global.

Argumen ini sering dibandingkan dengan emisi besar AS, China, dan India yang bersama-sama bertanggung jawab atas lebih dari setengah polusi karbon saat ini.

Klaim bahwa suatu negara hanya menyumbang 1% emisi digunakan untuk menyiratkan bahwa negara kecil namun kaya tidak bisa menghentikan cuaca ekstrem.

Merz bahkan berkata, meskipun Jerman menjadi netral iklim besok, tidak ada satu pun bencana alam yang akan dicegah di mana pun di dunia.

Ilmuwan Membantah Argumen Tersebut

Para ilmuwan iklim menunjukkan emisi historis negara-negara ini jauh lebih besar, dan metrik itulah yang paling penting untuk pemanasan global.

Negara-negara kaya juga memiliki lebih banyak uang untuk memotong polusi.

Secara per kapita, negara Eropa telah memberikan kontribusi emisi yang tidak proporsional. Kemajuan dalam membersihkan ekonomi baru sekarang membawa emisi tahunan mendekati rata-rata global.