Eropa sedang dilanda gelombang panas yang memecahkan rekor suhu bulan Juni. Inggris, yang dikenal dengan musim panas yang sejuk, juga terkena dampaknya.

Sebuah acara bertajuk "Extreme Heat: Improving Governance and Strengthening Action Around the World" yang dijadwalkan pada Rabu di London School of Economics terpaksa dibatalkan.

>>> Sinopsis Venom Film Tom Hardy di Bioskop Trans TV Hari ini 29 Juni 2026

Penyebabnya adalah suhu di London yang mencapai hampir 100 derajat Fahrenheit.

Panitia dari Zurich Climate Resilience Alliance mengatakan fasilitas universitas tidak mampu menyediakan pendingin yang memadai, seperti kebanyakan bangunan di London.

Meski ironis, aliansi tersebut memanfaatkan situasi ini untuk menyampaikan pesan penting.

"Besarnya dampak panas ekstrem di masa depan akan sangat bergantung pada upaya mitigasi global, tata kelola panas lokal, dan rencana respons," kata juru bicara kelompok itu kepada BBC.

"Kota-kota seperti London memiliki potensi unik untuk beradaptasi terhadap risiko panas yang berubah melalui manajemen risiko yang efektif di berbagai tingkat, menghubungkan kebijakan dan insentif, serta memperkuat kapasitas adaptasi masyarakat."

Ibu kota Inggris benar-benar "meleleh" di depan mata, menjadi situasi yang sulit bagi penduduk yang tidak terbiasa dengan suhu ekstrem.

"London tidak hanya memanggil, tapi juga memasak," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam acara iklim terpisah awal pekan ini.

>>> Honda BeAT Series 2026 Hadir dengan Dua Warna Glossy Baru

Ratusan sekolah di Inggris selatan terpaksa tutup karena suhu terus meningkat. Pengguna London Underground juga mengalami gangguan layanan akibat panas yang menyengat.

Prancis mengalami suhu yang lebih panas lagi, dengan Paris mencatat rekor Juni 105,6 derajat Fahrenheit pada Rabu.

"Kita baru berada di awal peningkatan jumlah orang yang datang ke unit gawat darurat," kata Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist kepada wartawan.

Situasi serupa terjadi di seluruh dunia.

Ilmuwan iklim memperingatkan bahwa musim panas ini akan sangat ekstrem karena "Super El Niño," pola iklim alami yang ditandai dengan pemanasan suhu laut yang memicu cuaca ekstrem.

Meski tidak ada bukti bahwa perubahan iklim secara langsung meningkatkan frekuensi atau intensitas El Niño, pemanasan global akibat ulah manusia dapat memperkuat dampaknya.

>>> Indofood Bagikan Dividen Rp290 per Saham, Cair Akhir Juli 2026

Yang kita lihat sekarang hanyalah awal dari musim panas yang lebih brutal.