Pemindaian bola mata bayi prematur ternyata bisa menjadi alat prediksi perkembangan otak mereka di masa depan.

Studi yang diterbitkan di jurnal JAMA Ophthalmology menemukan bahwa fitur tertentu di retina bayi yang lahir prematur terkait dengan hasil kognitif, motorik, dan perilaku saat mereka berusia dua tahun.

>>> Waymo Tertangkap Kamera Melawan Arus Lalu Lintas di California

Para peneliti mengatakan pemindaian mata non-invasif sudah cukup untuk mengidentifikasi tanda-tanda kecil tersebut.

Pemeriksaan di samping tempat tidur ini dapat membantu dokter dengan cepat mengidentifikasi anak-anak yang rentan terhadap tantangan perkembangan.

Bayi prematur memiliki risiko 50 persen lebih tinggi mengalami masalah perkembangan.

Retina sebagai Jendela Otak

"Karena retina adalah bagian dari sistem saraf pusat, retina memberi kita cara unik dan non-invasif untuk mempelajari otak yang sedang berkembang," kata rekan penulis Cynthia Toth, profesor oftalmologi di Duke University.

"Dengan pemindaian mata yang cepat dan aman, kita mungkin dapat mengidentifikasi bayi yang berisiko tinggi mengalami keterlambatan perkembangan jauh lebih awal."

Bayi prematur sangat prematur lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu, atau sekitar delapan minggu lebih awal.

Dalam studi tersebut, para peneliti mengikuti 72 bayi prematur hingga mereka berusia dua tahun.

Saat masih baru lahir, para peneliti mengambil gambar retina mereka dengan tomografi koherensi optik, teknik yang menggunakan cahaya inframerah untuk memeriksa mata dengan aman.

>>> Delta Force Hadirkan Crossover dengan Rainbow Six Siege Mulai 10 Juli 2026

Mereka berfokus pada fitur yang disebut lapisan serat saraf retina (RNFL), yang terhubung dengan saraf optik, penghubung mata ke otak.

Kemudian, saat anak berusia dua tahun, para peneliti menilai perkembangan motorik, kognitif, dan perilaku mereka.