Kondisi ekonomi keluarga ternyata memiliki dampak yang lebih besar terhadap perkembangan otak anak dibandingkan tingkat kecerdasan (IQ), pola asuh orang tua, atau riwayat kesehatan.

Temuan ini berasal dari penelitian terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari Washington University, Amerika Serikat.

>>> 4 Tips Jaga Kesehatan Tubuh dari Pengunjung Ageless Festival

Studi tersebut menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi menyumbang sekitar 16% variasi fungsi otak anak, menjadikannya faktor paling dominan dibandingkan aspek lain yang selama ini dianggap menentukan perkembangan anak.

Penelitian ini menegaskan bahwa lingkungan tempat anak tumbuh, termasuk kondisi keuangan keluarga dan lingkungan sekitar tempat tinggal, berperan besar dalam membentuk cara kerja otak mereka.

"Otak anak yang berasal dari latar belakang sosial ekonomi rendah terlihat seperti otak anak dari lingkungan sosial ekonomi tinggi yang mengalami kurang tidur dan stres," kata penulis senior penelitian, Nico Dosenbach, dikutip dari Euro News, Senin (15/6/2026).

Meski demikian, Dosenbach menekankan bahwa kondisi tersebut bukan berarti anak dari keluarga miskin memiliki otak yang kurang cerdas.

Ia menjelaskan, perbedaan yang terlihat lebih banyak dipengaruhi oleh faktor stres dan kurang tidur yang sering dialami anak-anak dalam kondisi ekonomi terbatas.

Jika ada cara untuk meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi tingkat stres pada anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah, maka sebagian perbedaan perkembangan otak tersebut berpotensi dikurangi.

Kemiskinan memang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi anak-anak di seluruh dunia.

Mereka lebih rentan hidup dalam kemiskinan dibandingkan orang dewasa, dan dampaknya dapat berlangsung sepanjang masa pertumbuhan.

Data UNICEF menunjukkan, hampir 900 juta anak di seluruh dunia mengalami kemiskinan multidimensi, artinya mereka kekurangan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, tempat tinggal, pendidikan, hingga layanan kesehatan.